TENTANG KAMI

Program Peduli adalah gerakan dengan pendekatan Inklusi Sosial yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) The Partnership for Governance Reform in Indonesia-Kemitraan khusus bekerja pada pilar Masyarakat Adat yang tergantung pada SDA.

ACARA KAMI

Ikuti Acara Kami di setiap daerah bersama 10 mitra kami.

  • Diskusi Terfokus

    di Jakarta

    Mendorong RUU Masyarakat Adat.

  • Kisah para

    Fasilitator

    Mereka adalah yang tak terlihat .

  • Kampanye

    Sosmed

    Mempromosikan Produk .

PERKEMBANGAN KAMI

Berikut adalah laporan perkembangan program kami setiap kuartal.

Serapan

Total 45%
CSO/Mitra 50%
Kemitraan 45%

Program

Total 90%
CSO/Mitra 40%
Kemitraan 70%

Event

Dokumentasi 90%
Publikasi 50%
Vestival 20%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

1000

PEMANFAAT

300

LAHAN

60

LAYANAN

30

KEBIJAKAN

STRATEGY & CREATIVITY

Gender mainstreaming, perlindungan terhadap hak-ahak anak dan strategy komunikasi.

AKTIVITAS

Baik capaian, pembelajaran dan praktik-praktik terbaik adalah pengatahuan yang menjadi modal kami melakukan yang hal yang lebih baik.

  • Jas Merah dari Peana


    Desa Peana dari atas (photo drone)

    Oleh Edo Yulanda

    Kata beranak sudah tidak asing dari pendengaran kita dan sering diabaikan, akan tetapi setelah saya menginjakkan kaki dan menghirup udara segar di sebuah desa dengan ketinggian 800-1200 MDPL maka kata 'beranak" teringat kembali yang menurut masyarakat setempat diartikan  "Peana". Konon ceritanya ada seorang Topo ahu (pemburu) yang sedang berburu dan sampai ditempat yang tinggi ia melihat adanya sebuah lembah datar yang sangat indah, dan mendirikan pemukiman serta bercocok tanam ditempat tersebut. Setelah itu Topo ahu kembali kerumah tempat asalnya serta menceritakan kepada keluarganya akan temuan yang didapat saat berburu. Selang beberapa waktu keluarga topo aru memutuskan untuk hijrah dan mendirikan pemukiman di lembah tersebut. Pada saat perjalanan menuju lembah, rombongan mendengar suara perempuan yang sedang menangis dan ternyata suara itu datang dari pinggiran sungai yang tak lain adalah seorang perempuan yang sedang melahirkan. Sehingga sungai tersebut diberi nama "po peana" yang berarti tempat melahirkan dipinggir sungai dan sejak saat itu sungai yang terletak di lembah itu sendiri dinamakan sungai "Peana" dan sekarang telah menjadi sebuah desa yang dinamakan Desa Peana.

    Menurut masyarakat Pipikoro, Masyarakat Peana bertutur dengan bahasa "Uma" dikalangan masyarakat Topo Uma penduduk Peana dan Keturunannya, yang dikelompokkan sebagai topo uli yang dikenal sebagai dialek yang lebih halus.

    Dalam sejarahnya sebelum masukya pemerintah Hindia Belanda, Peana merupakan pusat kerajaan Pipikoro. Masuknya Hindia Belanda tahun 1917 merubah kedudukan Pipikoro sebagai kerajaan otonom menjadi Sub-ordinasi dari kerajaan Kulawi dibawah kepemimpinan  Madika Malolo (Raja Muda) yang membawahi 17 (Tujuh Belas) Kampung yang ada di Pipikoro. Kepemimpinan Madika Malolo  berakhir pada tahun 1949 Sehubungan dengan berlakunya sistem Distrik yang dipimpin oleh seorang Kepala Distrik dan berubah menjadi Kecamatan.Tahun 1952 Masyarakat Pipikoro sudah mulai menanam  Seperti  Kakao, Kopi dan cengkeh. Tahun 1971 masyarakat Pipikoro mulai bersentuhan dengan pedagang keliling,  pertama kalinya mengenal pengobatan modern dan  kunjungan dokter ke Peana, serta Bantuan Pemerintah dalam Program Bantuan Desa (Bandes). Tahun 2002 , Pipikoro resmi menjadi Kecamatan dan Peana ditetapkan menjadi Ibu kota Kecamatan pipikoro serta melalui Swadaya Masyarakat kualitas jalan Peana-Gimpu ditingkatkan agar dapat dilalui kendaraan bermotor yang hasilnya masih dirasakan hingga sekarang ini (tahun 2017) sebagai jalan umum untuk akses bagi masyarakat.
  • Kemitraan Gelar FGD Tentang Masyaarakat Adat


    Perdebatan terhadap RUU Masyarakat Adat masih terjadi karena terdapat beberapa pandangan yang berbeda. Disatu sisi RUU ini dinilai memberikan peluang baru bagi masyarakat adat, namun juga tidak menutup kemungkinan menjadi ancaman bagi eksistensi mereka. Terhadap pandangan yang berbeda ini, Kemitraan bermaksud untuk mengadakan FGD RUU masyarakat adat yang melibatkan CSO mitra yang selama ini sudah mendampingi kelompok adat di wilayah dampingannya. FGD ini ingin menemukan kembali suara langsung dari masyarakat adat serta mendiskusikan ide dan konsep kebijakan RUU yang diharapkan mampu menjaga dan melestarikan budaya serta kehidupan masyarakat adat yang masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan nenek moyang.

    Untuk itu Kemitraan menghadirkan Akademisi, pihak Kementerian dan Anggota Panja Harmonisasi, kelompok masyarakat Sipil untuk berdiskusi tentang topik ini, terutama dalam melihat aspek inklusivitas dalam RUU masyarakat adat tersebut.

    Kegiatan dilaksanakan di Hotel Cipta, Pancoran, Jakarta Selatan pada tanggal 4 Oktober 2017



     
  • Akhirnya Komisi A ke Pulau Kera

    Apa yang ada di benak banyak orang ketika mendengar nama Pulau Kera? Saya sangat yakin kalau pertama orang dengar “Pulau Kera” pasti mengira akan banyak monyet di pulau tersebut. Namun jangan salah, pulau ini bukanlah sebuah pulau yang dihuni oleh ratusan kera atau monyet. Ada beberapa pendapat tentang asal usul nama Pulau Kera ini. Sebagian ada yang menyebut Kera berasal dari kata Kea (Bahasa Rote) yang artinya penyu. Karena dahulunya pulau ini berfungsi sebagai penangkaran penyu. Ada juga yang mengatakan bahwa nama ini berasal dari Kata “Kerang” namun karena lafal maka lama-lama huruf “ng” hilang sehingga menjadi “kera”. Namun beberapa ada pula yang berpendapat Kera berasal dari kata Takera (Bahasa Solor) yang artinya ember/timba karena di pulau ini ada sebuah sumur dan untuk menimba air harus menggunakan Kera atau ember/timba.

    Karena lokasinya ada di tengah laut maka Pulau Kera ditetapkan sebagai salah satu taman wisata alam laut Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 83/Kpts-II/1993 tertanggal 28 Januari 1993. Luas TWAL Teluk Kupang adalah 50.000 ha. Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, salah satu fungsi taman wisata alam laut adalah sebagai kawasan pelestarian alam yang diperuntukkan bagi penyelenggaraan wisata. Pulau Kera adalah surga yang keindahannya begitu mempesona. Tempat ini bisa jadi pilihan terbaik bagi mereka yang ingin refreshing, lepas dari rutinitas aktivitas harian.

    Untuk kesekian kalinya saya berkunjung ke Pulau Kera, kali ini (28 September 2017), saya merasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya ketika saya bertandang ke Pulau Kera, angin dan gelombang laut sangat bersahabat dengan kami pagi ini, seolah tersenyum melihat kami hendak mengarunginya. Tepat jam 09.00 wita, kami bertolak dari Pasar Oeba tempat dimana perahu-perahu tujuan Pulau Kera dan Sulamu berlabuh dan akan berangkatkan kami menuju Pulau Kera dengan menggunakan perahu motor. Biasanya jarak tempuh Kupang-Pulau Kera + 1 jam perjalanan, namun hari ini hanya 30 menit kami tiba di Pulau Kera dan kamipun menginjakkan kaki di Pulau Kera. Setibaya kami di bibir pantai, terlihat jejeran perahu-perahu nelayan yang ditambat dibibir pantai berayun-ayun dihempas angin dan gelombang. Anak-anak Pulau Kera, layaknya anak pantai seru bermain di laut, Ombak dan teriakan anak-anak kecil yang asik dengan permainan mereka di dalam laut, ada yang berenang, berperahu bahkan membantu orangtuanya yang sedang menangkap ikan menjadi pemandangan yang kami lihat layaknya sebuah iklan dan running taks yang ada di perempatan jalan tempat kita berhenti sejenak ketika lampu jalan menunjukkan warna merah. Sembari berlalu, kamipun menyapa mereka sambil berbasa-basi “lagi buat apa nih”? padahal sudah tahu mereka sedang bermain di laut…ada ada saja,,,yah namanya juga basa-basi biar kelihatan akrab, begitulah kira-kira.

    Dari bibir pantai, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Bapak Hamdan merupakan salah satu Tokoh Masyarakat di Pulau Kera yang mayoritas adalah Suku Bajo, dan tibalah kami di rumah Bapak Hamdan, kami beristirahat sejenak dan menikmati kopi susu hangat yang disajikan buat kami. Kok cuacanya panas sekali ya…saya bergumam pada Bapak Hamdan dan diamini oleh kawan-kawan seperjalanan dari kupang yaitu Ibu Lili dan Melki sambil terus meneguk sajian tberselera itu. Setelah selesai, saya keluar dari dalam rumah untuk mendapatkan hawa sejuk,…eh…. ternyata di depan rumah ada sebuah pohon rindang “Pohon Kom” namanya dan dibawah pohon itu ada tiga orang laki-laki paruh baya dengan senyum menyapa seraya memberi isyarat slamat datang bergabung untuk melepas penat di bawah pohon ini.
    Saya menghampiri mereka dengan serangkaian sapaan untuk mencairkan suasana, setali tiga uang, sapaanku disambut dengan gurauan dari salah seorang diantara mereka yaitu Bapak Saleh dengan dialek kupang “Pulau Kera Dingin ko?”.
    Kalimat ini ternyata membuat kami semua tertawa karena cuacanya justru panas yang luar biasa. Bapak Saleh melontarkan pertanyaan kepada saya, “Bapak dong su sampai dari tadi ko?” Sayapun langsung menjawab, baru sejam yang lalu. Bapak Saleh bertanya lagi, ada sama-sama dengan tim dari Komisi A dong ko?

    Tidak, kami terpisah perahu motor dan kami jalan duluan jadi kami sampai di sini (Pulau Kera) lebih duluan sela saya. Rupanya informasi terkait dengan kedatangan Anggota Dewan Yang Terhormat dari Komisi A DPRD Kabupaten Kupang sudah diinformasikan kepada warga sejak dua hari yang lalu, bahkan ada himbauan agar hari ini semua warga Pulau Kera tidak bepergian ataupun melaut. Tiadak berapa lama kami mendengar pengumuman melalui pengeras suara Masjid oleh salah seorang guru ngaji bahwa tim dari Komisi A DPRD Kabupaten Kupang sudah tiba dan mohon agar semua warga berkumpul di pelataran Masjid. Warga sangat antusias bahkan hanya dalam waktu 15 menit, pelataran Masjid terisi penuh oleh warga Pulau Kera untuk melihat dan mendengarkan secara langsung apa yang akan disampaikan oleh para Anggota Dewan Yang Terhormat yang merupakan representasi warga juga.

    Ucapan selamat datangpun teruntai dari bibir salah seorang Tokoh Agama di Pulau Kera kepada Tim dan Komisi A DPRD Kabupaten Kupang dan sekaligus mengucapkan limpah terimakasih karena sudah berkenan mengunjungi warga Pulau Kera. Selanjutnya beliaupun memberi kesempatan kepada Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Kupang Bapak Soleman Dethan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya sekaligus memimpin diskusi bersama warga. Bapak Soleman Dethan langsung menyapa warga sekaligus memperkenalkan diri beserta rombongan yang terdiri dari sembilan Anggota Dewan yang merupakan perwakilan dari sembilan partai yang tergabung dalam Komisi A DPRD Kabupaten Kupang. Maksud kedatangan ini adalah untuk menindaklanjuti surat yang kami terima dari warga di Pulau Kera sini terkait dengan beberapa persoalan yang dialami oleh warga oleh sebab itu kami ingin mendengarkan dan melihat secara langsung. Karena kami ingin dengan langsung apa yang menjadi persoalan Bapak/Ibu, Saudara/Saudari semua maka kami persilahkan untuk bicara secara terbuka tanpa harus merasa canggung karena kami ingin tahu sejelas-jelasnya.

    Tidak butuh waktu lama, Bapak Hamdan selaku Tokoh Masyarakat di Pulau Kera langsung merespon kesempatan yang diberikan oleh Ketua Komisi A DPRD Kabupatean Kupang untuk menyampaikan terkait dengan kondisi terkini di Pulau Kera. Bapak Hamdan menarik nafas panjang dan dengan suara nyaring berucap, Rakyat Indonesia sudah merayakan HUT Ke-57 Kemerdekaan RI dan semua daerah tentu sudah merasakan langsung pembangunan di segala sektor. Namun hal ini tidak berlaku bagi ratusan warga penghuni Pulau Kera, yang masuk ke teritorial Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagaimana tidak, sebanyak 114 KK dan 414 jiwa warga penghuni pulau kecil seluas 48,17 hektar ini dianggap sebagai penduduk liar karena hanya sebagai tempat persinggahan, padahal kami sudah tinggal di pulau itu sejak tahun 1911. Akibatnya kami yang sebagian besar berasal dari Suku Bajo, Sulawesi Tenggara, ini tidak bisa menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Kami menempati lahan seluas 48.17 ha bahkan sudah diklaim oleh pihak swasta 20 ha adalah milik mereka dan sisanya adalah milik pemerintah yang kami tempati. Di Pulau Kera tidak ada layanan umum terutama kesehatan dan pendidikan, yang ada saat ini hanya subuah Masjid yang sudah dimanfaatkan juga untuk belajar anak-anak di Pulau Kera yang masih usia sekolah. Kami hanya bisa membangun rumah-rumah semi parmanen karena kami masih merasa ragu dengan masa depan kami di Pulau Kera karena secara geografis kami harusnya ke Semau, namun secara kedekatan emosional kami ke Sulamu sehingga hampir 90 % warga tidak memeliki legalitas dokumen.

    Terkait dengan relokasi, kami siap saja mau direlokasi kemana saja boleh asalkan sesuai dengan karakteristik kami yaitu nelayan, karena pernah Pemerintah Kabupaten Kupang, pada tahun 2014 lalu berencana untuk merelokasi semua warga pulau Kera ke Pariti, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, namun kondisi lahan di daerah baru yang sudah disediakan pemerintah jauh lebih buruk karena berada cukup jauh dari laut, sehingga akan menyulitkan warga untuk beraktivitas. Menurut dia, rencana pemerintah hendak merelokasi warga Pulau Kera ke Pariti itu kurang pas karena tidak sesuai dengan profesi kami sebagai nelayan. Lokasi Pariti itu adalah areal persawahan yang tidak sesuai dengan latar belakang profesi nelayan.

    Menanggapi hal tersebut, sembilan Anggota Dewan yang tergabung dalam Komisi A berpendapat dan menyekakati bahwa harus ditindaklanjuti karena ini persoalan yang harus cepat direspon oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kupang terutama terkait dengan legalitas dokumen warga dan relokasi warga. Dalam waktu dekat kami akan melakukan rapat dan hal ini akan menjadi prioritas kami akan angkat dalam rapat paripurna perubahan anggaran, namun sebelum itu kami akan panggil beberapa pihak terkait persoalan ini termasuk warga Pulau Kera, mitra kerja terkait, pihak swasta dan kalau bisa pihak Yayasan Tanpa Batas untuk turut serta untuk dapat memberi informasi terkait data dan situasi warga Pulau Kera dalam pembahasan sehingga akan ada solusi yang sesuai dengan keinginan warga di Pulau Kera.

    Warga sangat senang karena baru pertama kali Anggota Dewan Yang Terhormat datang melihat warga Pulau Kera dalam rangka tugas bahkan datang dalam Tim yang tergabung dalam Komisi A. Setidaknya memberi angin segar bagi warga karena biasanya hanya datang saat kampanye saja, itupun hanya segelintir calon legislative saja yang datang namun setelah itu tidak datang lagi. Warga sangat berharap persoalan yang dihadapi warga bisa teratasi pasca kedatangan Komisi A DPRD Kabupaten Kupang.
    Peristiwa hari ini niscaya bukan hanyalah cerita tentang sebuah penantian yang tiada seorang pun tahu kapan akan segera berakhir. Menanti, satu hal yang paling dihindari setiap manusia. Tidak berhitung lagi betapa banyak harapan telah pupus hanya karena sebuah penantian dalam Ruang Rindu untuk sebuah harapan dan cita-cita. Meski tak dipungkiri, ada juga yang tetap menyimpan harapan itu, merajutnya satu demi satu dan kemudian disampaikan kepada Sang Penguasa Jagat Raya dan berdamai dengan waktu demi sebuah penantian dalam Ruang Rindu. (Catatan Deni Sailana dari kunjungan Komisi A DPRD Kabupaten Kupang ke Pulau Kera-Kabupaten Kupang-NTT, 28 September 2017)
  • Suara Rica dari Porolea

    ilustrasi

    Oleh:Dewi Yunita Widiarti

    Tuk..tuk.., tuk..tuk,...tuk...tuk
    Dalam senyap bunyi berirama itu terdengar,
    Makin lama semakin terdengar jelas,
    Otak sekilat bekerja, memberi jawab atas sumber suara
    “lesung padi”...lintasan pikiran itu berkelebat
    Sementara otak yang lain tidak juga membenarkan..
    Dingin semakin menjalar ke ujung kaki,
    Signal di kepala memerintahkan tangan untuk menarik kembali selimut
    Merapatkannya hingga menutupi wajah
    Sumber bunyi akan kutanya besok...
    Dan akhirnya mata makin merapat, menjemput mimpi yang tadi terpenggal


    Hampir sebagian rumah warga punya bentuk yang sama dengan rumah milik Agus, Kepala BPD Desa Porelea, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.  Hanya pondasi, lantai ruang bawah dan sedikit bata di bagian bawah bangunan; selebihnya kayu papan dua lantai beratap seng yang mulai mengkarat.


    Terdapat dua anak tangga kayu untuk naik pada lantai dua bangunan tersebut. Satu terletak di sisi depan kanan rumah, sedang satu lainnya terletak di sisi kiri belakang yang langsung menghubungkan dengan pintu belakang dapur .


    Terdapat tiga kamar di lantai dua rumah. Ukuran kamar tidak lebih dari 3 x 3 meter. Salah satunya kami gunakan untuk tidur semalam. Tentu saja berukuran lebih besar dari dua kamar yang lain. Dipan kayu sederhana terdapat di setiap kamar, kasur kapuk tipis berseprai kusam tampak menutup permukaan kasur. Ada bantal tanpa guling dan satu selimut tebal berbulu yang menghalau dingin tadi malam.


    **


    Kami tiba di Desa ini sudah senja. Setelah bersalaman dengan tuan rumah Agus dan istrinya, kami dipersilahkan untuk menempati lantai dua. Tidak ada yang berencana untuk mandi membersihkan  diri setibanya di sana, semua semakin rapat mengancing sweeter dan jaketnya; sementara aku pun sibuk mencari kaos kaki untuk menutup jari yang pertama memberi rasa dingin.


    Porelea..

    Bersepuluh kami di tempatkan di desa ini. Kedatangan kami sepertinya sudah diketahui pemerintah desa jauh-jauh hari. Karel, Kepala Desa Porelea langsung mengarahkan kami ke rumah Agus yang ternyata merupakan kakak kandungnya. Agus memiliki satu kamar mandi yang terletak di lantai satu berdampingan dengan dapur, ku pikir salah satu alasannya pasti karena fasilitas tersebut panitia menempatkan kami di sini. Sementara sebagian besar warga desa yang lain, masih memanfaatkan pancuran umum untuk membersihkan diri, mencuci dan sebagainya.


    Malam itu kami ngobrol santai dengan Agus sang pemilik rumah dan Karel. Kesempatan tersebut juga kami gunakan untuk menatap lekat anggota tim yang sebelumnya tidak semua saling mengenal. Malam di tutup dengan acara makan dan obrolan ringan yang kerap mengocok perut mengumbar tawa dari teman-teman Karsa, lembaga yang menjadi tuan rumah dalam kegiatan Cross Learning tersebut.


    Suasana menjadi lebih terasa hangat, meski semilir angin malam bebas menembus pintu dan jendela yang tak berkaca. Gorden yang  tergantung di pintu dan jendela tidak berfungsi maksimal, hembusan angin kerap menyibak kain gorden. Salah satu kawan justru berinisiatif mengikat kain tersebut agar tidak kerap melambai. Alhasil malam terasa makin sejuk, sementara di luar langit cerah dengan taburan bintang selepas hujan gerimis  mengguyur perjalanan panjang kami menuju Porelea.


    **

    Tuk...tuk...tuk....tuk..., bunyi yang sama kembali terdengar.

    Bergegas ku turuni anak tangga belakang sambil setengah berlari, sandalpun belum terjepit sempurna di kaki kiri. Dapur rumah Agus cukup luas untuk ukuran rumah di kampung. Ada perapian kayu di ujung ruangan, sementara tidak jauh dari itu kompor gas dengan tabung 10 kg juga ada di sana.


    Satu meja kayu panjang, terletak di tengah ruangan. Bu Agus meletakan gelas, cerek  minum berbahan almunium, toples kaca berisi kerupuk, keranjang berisi cabai dan bawang juga diletakan di atas meja.


    Sementara di sisi sudut dapur yang lain, ada rak piring penuh dengan pekakas. Ada lemari kayu yang juga penuh dengan tumpukan piring kaleng, blender tua dan baskom ukuran besar yang kurang tertata di atasnya.


    Mataku langsung tertuju pada sumber bunyi...

    Tuk...tuk...tuk...tuk.....ku lihat Agus sedang memegang sepotong batang bambu dengan sebilah kayu bulat berukuran lebih kecil yang di masukan berulang-ulang ke dalam tabung bambu tersebut. Tangan kiri dipergunakan untuk memegang tabung bambu, sedang tangan kanan memegang erat kayu bulat kecil yang berukuran lebih panjang di bandingkan tabung bambunya.


    Gerakannya berulang, seperti sedang menumbuk sesuatu.

    Tuk...tuk...tuk..., ternyata benda itulah yang menjadi sumber bunyi. Agus sedang menumbuk cabai dan bawang untuk masak. Alat itu berfungsi layaknya gilingan batu yang ku punya di rumah. Sementara Bu Agus sedang duduk disebelahnya sambil memilah daun sawi antara yang berwarna hijau dengan sebagian yang mulai menguning.


    Owh.... alat itulah yang berbunyi sejak subuh tadi. Bukan lesung padi...

    Tapi bilah bambu sepanjang 40 cm yang berfungsi untuk menumbuk dan menghaluskan bumbu dapur.


    Perhatianku tidak lagi ke alat tumbuk tersebut, tapi justru pada Agus. Sejak semalam Agus tampak sigap membantu istrinya mulai dari mengeluarkan kopi, membawa makanan dan berulang kali turun naik ke lantai dua untuk membawa piring-piring berisi makanan yang kami santap semalam.


    Pemandangan pagi ini justru lebih mengherankan.

    Agus menumbuk cabai, bumbu tumis yang akan di pakai istrinya untuk memasak sawi. Rencana ingin ke kamar mandi jadi memaksaku duduk di antara mereka.  Bu Agus bercerita kalau sawi tersebut diberikan oleh keponakannya semalam. Sawi yang di tanam sendiri, bebas pestisida. Wajar kalau tumisan sawi yang kami santap tadi malam, terasa lebih segar dan manis karena ternyata baru di petik dari ladang.


    Ujung ekor mataku masih berusaha menangkap gerak dan aktifitas Agus selanjutnya. Laki-laki itu mengangkat baskom plastik ke kamar mandi.  Selang kecil yang tak berhenti mengeluarkan air tampak membasuh sesuatu yang berasal dari dalam baskom.


    “Pak Agus memotong ayam kampung tadi, itu sedang di cucinya”, istri Agus memberi penjelasan sebelum pertanyaan aku ajukan.


    Wahh, luar biasa ku pikir laki-laki ini. Setelah menumbuk bumbu sekarang ia pun membersihkan potongan ayam.


    **

    “selamat pagi Ibu,” sapaan itu cukup membuatku terperangah karena disampaikan oleh anak perempuan kecil yang kuperkirakan baru berumur 5 tahun. 

    Porelea memang berbeda..


    Pagi itu ku putuskan jalan menelusuri jalan setapak rabat beton di dalam desa untuk sekedar mencari keringat. Dan sepanjang itu sudah puluhan orang menyapaku. Tidak hanya orang tua dan ibu muda, anak-anak kecil’pun memberi senyum ramahnya. Satu tradisi yang sangat jarang kita temukan di kota.


    Beberapa bangunan rumah warga Porelea cukup menarik. Ada yang berbahan utama kayu papan, ada yang berdinding bambu beranyam, ada yang berdinding bata merah dan banyak rumah yang mengkombinasikan bahan-bahan tersebut. 


    Atap rumah juga beragam. Mulai dari atap seng. Atap bambu, ijuk dan yang paling unik menurutku adalah rumah beratap kayu. Seperti halnya Lobo rumah adat mereka yang baru selesai diresmikan. Atap Lobo terbuat dari potongan-potongan kayu tipis, berukuran sama yang di susun rapih menyerupai genting.


    Beberapa rumah panggung lama juga masih dihuni dan terawat baik.

    Rumah panggung yang umumnya berukuran kecil tersebut, tegak berdiri pada pondasi batu tanpa cor. Tidak kutemukan potongan paku pada kayu bangunan. Rumah-rumah lama itu menggunakan pasak. Kayu satu dengan kayu lainnya saling terhubung layaknya puzzle. “Design  anti gempa!”,ujar Budi staf Karsa menjelaskan.


    **

    Porelea berpenduduk 984 jiwa atau sekitar 203 KK, 53% nya adalah perempuan. Data itu berstabilo kuning pada profil desa yang Panitia bagikan sebagai bahan informasi dari lokasi kunjungan. Di informasi itu juga tertulis bahwa perempuan porelea memilki peran yang sama pentingnya dalam kegiatan produktif maupun domestik dengan kelompok laki-laki.


    Data profil itu mengingatkan kembali pada Agus, induk semang dimana kami menginap.

    Berumah tangga cukup lama, keluarga itu belum juga diberikan keturunan. Tapi sikap dan cara Agus memperlakukan istrinya demikian baik. 


    Karel juga menceritakan semalam, kalau Porelea menempatkan perempuan pada posisi sangat mulia. “Hampir tidak ada angka perceraian di sini, apalagi istilah kekerasan dalam rumah tangga!. Sangksi adat untuk kekerasan seperti itu cukup berat ”, Karel menegaskan.


    “jika perempuan meminta cerai lebih dahulu, maka adat akan mengabulkan. Tapi jika laki-laki yang mengajukan cerai, maka dia harus membayar denda berupa seluruh biaya hidup yang telah dikeluarkan pihak orang tua atas anak perempuannya”, Tamasopia salah satu dewan adat Porelea menjelaskan tentang posisi perempuan dalam hal perceraian.


    Porelea juga punya 11 orang yang duduk dalam lembaga adat. Tiga diantaranya adalah perempuan. Kuota 30% untuk perempuan sudah berlangsung sejak lama di desa terpencil ini. Keberadaan perempuan di dewan adat betul-betul di fungsikan, mereka punya hak bersuara dan duduk berdampingan dengan laki-laki ketika Lobo menggelar rapat adat. Contoh nyata yang mengungkap kebenaran cerita itu bisa saya lihat jelas pada Agus dan istrinya.


    **

    Agus dan istri menyelesaikan pekerjaan rumah tangga bersama. Mengurus ladang dan mengambil hasil kebunpun kerap bersama-sama. Ketika Bu Agus sedang sibuk di dapur, Agus kerap melayani pembeli yang berkunjung ke warung  kecil milik mereka.


    “ini harganya berapa Bu?” Agus setengah berlari ke dapur dan menyodorkan sepasang sandal perempuan barang dagangan warung yang hendak di beli seorang warga.


    Setelah mendapatkan informasi harga sandal, Agus kembali bergegas ke depan untuk kembali melayani para pembeli di warungnya. Keduanya tampak rukun dan harmonis. Pada satu malam menuju kamar mandi, tampak pemandangan di mana keduanya sedang duduk nonton televisi bersama di lantai dasar rumahnya.


    Pemandangan yang ikut menyejukan hati dan memberi pesan tauladan yang baik untuk pengamat seperti saya.


    Porelea ohh.... Porelea,  rumah induk semang tempat kami bermalam’pun memberi pembelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan berumah tangga.


    Ketiadaan anak dari hasil perkawinan tidak sedikitpun merubah sikab dan mengurangi cinta kasih diantara keduanya. Semoga Porelea tetap menjaga kebaikan dan keharmonisan diantara Agus dan Istrinya. ***

                                                                                                                                                                           



  • APA YANG KAMI LAKUKAN

    Selama dua tahun terakhir ini kami dan CSO/Mitra belajar bersama masyarakat adat lokal terpencil

    HUBUNGI KAMI

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Peduli Adat

    • Jalan:Taman Margasatwa No.26C, Jkt
    • Person:Mering
    • Phone:+622122780580
    • Country:INDONESIA
    • Email:sindikasipeduli@gmail.com

    Kami sangat bergembira jika anda menjadi bagian yang memberikan idea yang lebih baik

    Silahkan tinggalkan pesan, atau menghubungi kami melalui kontak di bawah ini, atau datang langsung ke alamat kami yang telah tersedia di website ini.