Hidup Setara dalam Sebuah Negara

Gerakan Inklusi Sosial masyarakat adat untuk kesejahteraan

Info Pilihan

Info Terkini

Senin, 30 Januari 2017

Champion Peduli dari Belitung Timur

Fikri Firdianto, ketika menerima Piagam Penghargaan dari Pemerintah Daerah Belitung Timur, pada peringatan HUT Kabupaten tersebut.
Fikri Firdianto, satu fasilitator Program Peduli dan aktivitis pemberdayaan di Kabupaten Belitung Timur untuk pilar masyarakat adat meraih penghargaan sebagai Pemuda Pelopor, pada peringatan Hari Jadi Kabupaten tersebut.

Bersama team Peduli LPMP AMAIR, Fikri telah mendampingi masyarakat Suku Sawang yang terekslusi untuk inklusi sosial dan pemenuhan hak-hak dasar mereka sebagai sesama warga negara Indonesia.  Fikri adalah pemuda dan champion yang memilih 'nyaring' bekerja ketimbang banyak bicara sesuai motonya. Selamat untuk Fikri Firdianto , teruslah berjuang untuk orang kecil yang kerab terabaikan!

Redaksi Peduli Adat
AMAIR Champions Gallery Photos Program Peduli Suku Sawang

Senin, 31 Oktober 2016

Kemko PMK Jangkau 950.000 Warga Marginal

Ir Magdalena MM, menyampaikan sambutan workshop di Jambi. dok SSS Pundi
Jambi - Dari sekitar 4,5 juta jiwa rakyat Indonesia yang hidup dalam kondisi marginal dan terpinggirkan, Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemko PMK) baru mampu menjangkau 950.000 jiwa pada pelaksanaan Program Peduli fase kedua di tahun 2015-2016.
Demikian diungkapkan Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Kemko PMK, Magdalena, ketika menyampaikan sambutan workshop untuk Mendorong Sinergi Lintas Wilayah untuk Pemberdayaan komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Sepanjang Lintas Tengah Sumatera, di Jambi, Kamis (27/9). Berita selengkapnya bisa dibaca beritasatu.com  dan versi englisnya di teraju.id.
Gallery Kemenko PMK Kliping SSS Pundi

Selasa, 25 Oktober 2016

AMAIR Luncurkan Buku Tentang Suku Sawang

Oleh Wahyu Kurniawan*)

Kulek Terakhir, Sebuah Pengantar Sejarah Suku Sawang Gantong adalah sebuah buku yang membuka jalan bagi banyak pihak yang tertarik pada komunitas Suku Laut di Pulau Belitung, khususnya di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.
  
Secara harfiah, Kulek adalah nama dari sebuah perahu khas yang dulu digunakan oleh Suku Sawang untuk mencari nafkah. Setelah melalui sejarah yang panjang, jumlah perahu itu sekarang hanya tersisa satu unit saja. Kulek Terakhir yang dipilih sebagai judul buku ini menjadi kiasan dari sebuah kehidupan Suku Laut kontemporer yang justru hidupnya jauh dari laut. 

Buku ini akan mengurai riwayat penyebab tercerabutnya Suku Sawang dari laut. Penulisannya menggunakan pendekatan jurnalistik. Pernyataan orang-orang terdahulu tentang Suku Sawang sebisa mungkin dikonfirmasi pada generasi yang masih ada saat ini. Pengumpulan datanya menggunakan metode observasi, penelitian pendapat dan kepustakaan serta wawancara. Sumber refrensi tertulis juga diperoleh lewat penelusuran sejumlah media di internet. 

Penelitian pendapat merupakan hasil elaborasi penulis selama menjadi wartawan yang membidangi sejarah dan budaya. Hasilnya itu bisa dilihat dalam bentuk tabulasi dan simpulan yang memudahkan pembaca melihat hubungan dari masa ke masa tentang riwayat Suku Sawang Gantong.

Tentu terdapat sejumlah kekurangan dalam penulisan buku ini. Salah satunya adalah sumber-sumber berbahasa Belanda kuno yang masih diterjemahkan secara bebas. Kedalaman dari setiap konteks masalah dalam penulisan buku ini juga masih perlu ditingkatkan pada masa-masa mendatang.

*) Journalist, penanggungjawab online Harian Pagi Pos Belitong

AMAIR Inklusif Masyarakat Adat Program Peduli Suku Sawang

Cerita Inklusi Fasilitator Peduli


Para fasilitator program Peduli Yayasan Samanta  tidak hanya bergulat bersama masyarakat adat yang didampinginya, tetapi juga menuliskannya menjadi cerita yang membawa kita kepada suasana masyarakat adat yang mereka dampingi.

Untuk membaca kisah mereka, silahkan downlod di link berikut ini..
Download Fasilitator Masyarakat Adat Program Peduli Samanta

They Who Never Give Up


They Who Never Give Up
Stories of PNPM Peduli Facilitators
Author: PNPM Peduli Facilitators Team
Copyright © 2014, Kemitraan

xxix +
194 page, 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-1616-05-5

Editor: Luqman Hakim Arifin
Bahasa Indonesia Proof Reader: Agus Khudlori
Translator: Miki Salman
English Proof Reader: Benedicta R. Kirana, Puji Wulandari T Dewi
Cover Design: A. M. Wantoro
Layout Bahasa Indonesia: Erwan Hamdani & Hendrik Ferdiyansyah
Layout English: Puji Wulandari T Dewi

Photo Contributors:
Ade Siti Barokah, Alexander Mering, Arul, Benedicta R. Kirana, Bosio,
Budianto, Dano Kafara, Deni Sailana, Dewi Yunita Widiarti, Fitrya
Ardzyani Nuril, Florensius, Hendra, Herry, Hurin In, Idham Malik,
IKA, Kurniawan (Awang), Laurensius Edi, Leonardus, Muhammad
Bustom, Mitra Turatea, Mulyoto, Niksen, Saparuddin, Satrianto, Sena
Handoko, Swara, Weda, Wisnu, Yaury Tetanel, Yopu Hardy, Yudith
Evametha.

First English Edition, August 2016
All rights reserved.
No part of this publication may be reproduced, distributed, or
transmitted in any form or by any means, including photocopying,
recording, or other electronic or mechanical methods, without the
prior written permission of the publisher.

Jl. Wolter Monginsidi No.3, Kebayoran Baru - Jakarta 12110
Tel: +62-21-72799566 / Fax: +62-21-720 5260
www.kemitraan.or.id
Download English Gallery Program Peduli

Senin, 17 Oktober 2016

Desa Kanekes Gelar Festival Baduy 2016

Download Undangan di sini
Untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur budaya, serta prinsip-prinsip keseimbangan dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Perangkat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten, bersama para pengrajin tenun dan pelaku budaya Baduy bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Disporapar Kabupaten Lebak Banten akan menggelar Festival Baduy pada akhir Oktober 2016 mendatang.

“Ide ini  juga dalam rangka mempromosikan prinsip Gunung teu meunang  dilebur, Lebak teu meunang dirusak (Gunung tidak boleh dihancurkan, Lembah tidak boleh dihancurkan),” ujar  salah satu Fasilitator Program Peduli dari RMI Bogor yang ikut menginisiasi acara tersebut, Selasa (17/19).
Festival ini sendiri merupakan inisiatif dari ide para Perangkat Desa Kanekes, para penenun dan warga Baduy yang didukung oleh Program Peduli untuk inklusi sosial.

Nilai-nilai yang yang selama ini dijaga dan dipertahankan masyarakat Baduy diharapkan dapat menginspirasi dan dijjadikan pembelajaran semua pihak dalam menata, mengatur, dan mengimplementasikan tatakelola/tata kuasa sumberdaya alam agar tetap memberikan manfaat bagi hidup manusia tetapi teetap terjaga dan lestari.  

Festival Baduy 2016 ini akan menampilkan pameran produk unggulan berupa tenun khas Baduy dan kerajinan kreatif lainnya, pameran kuliner Baduy, pentas seni dan budaya, workshop tata kelola desa. “Lebih dari 500 penenun Baduy luar akan tampil dalam acara tersebut untuk memecahkan rekor menenun,” tambah Aji.

Kepala Desa Kanekes, Jaro Sa’ ija mengatakan warga Kanekes atau yang dikenal dengan sebutan Baduy telah menjaga alam dan hutan di wilayah itu sejak jaman dahulu kala, dengan prinsip-prinsip  berkelanjutan, dengan memanfaatkan SDA seperlunya tanpa berlebihan.  

 Secara umum keberadaan masyarakat Adat Baduy telah diakui dalam bentuk Perda Lebak No. 13 Tahun 1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Adat Masyarakat Baduy di Kabupaten Daerah Tingkat II Lebak dan Perda No. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Baduy. 

Dengan aturan adat yang dipegang teguh, mereka mengelola Leuweung Kolot  atau  Hutan Adat (2.492,06 ha), lahan pertanian berupa huma (2.585,29 ha) dan pemukiman (24,50 ha) tetap terjaga dan terkelola dengan baik hingga sekarang di lahan seluas 5.136,58 ha ( Disporapar Lebak , 20 16 ).  
Warga Baduy yang kini berjumlah 3.300 KK atau 11.667 jiwa percaya bahwa tanah atau lahan adalah ambu atau ibu yang memiliki arti penting dan wajib dihormati, layaknya anak yang menghormati ibu nya ( RMI, 2016 ).  

Karena itu seluruh siklus hidup masyarakat Baduy tidak dapat dilepaskan dari keberadaan hutan, alam dan budaya perladangan yang mereka anut.

Festival ini akan melibatkan banyak pihak. Selain warga Baduy sendiri, pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga para pihak lain yang menghormati budaya masyarakat Baduy.
Baduy Festival RMI

Senin, 03 Oktober 2016

Pemkab Bulukumba, SCF dan Kemitraan Tandatangani MoU

Naufal (SCF), A. M. Sukri A. Sappewali (Bupati Bulukumba) dan Dewi Rizki (Kemitraan) usai menandatangani MoU
Kemitraan untuk tatakelola pemerintahan-Partnership dan Pemerinah Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Community Foundation (SCF) menandatangani nota kesepatan dalam rangka pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bejawan, 28 September 2016.

"Penandatanganan MoU tersebut, merupakan rangkain  dari proses pelaksanaan program peduli yang sudah kita laksanakan di Bulukumba selama dua tahun terakhir ini," kata perwakilan SCF, Naufal Ahmad yang ikut menandatangani nota kesepakatan tersebut.

A. M. Sukri A. Sappewali, dalam sambutannya mengatakan bahwa penandatanganan nota kesepakatan tersebut merupakan upaya Pemkab Bulukumba bekerja sama dengan SCF yang didukung oleh Kemitraan dalam membantu menyusun roadmap rencana pembanguanan terakit dengan pengelolaan DAS Bejawan.

Karena itu dia mengundang semua SKPD di  lingkungan Pemkab Bulukumba, untuk secara bersama-sama mensinergikan  dengan program di SKPD masing-masing. Karena kata dia, pembangunan harus terintegrasi secara baik.

Semenara itu Program Director Partnership For Governance Reform, Dewi Rizki yang ikut menandatangani MoU tersebut menambahkan bahwa, sebagai sebuah lembaga yang terus menerus berusaha  mendorong Pembaruan Tata Pemerintahan hingga ke tingkat daerah. 

Penandatanganan MoU ini menurut dia merupakan upaya Kemitraan dalam memberikan dukungan bagi usaha-usaha ke arah tersebut, selain memang merupakan bagian dari rangkaian program kerja kemitraan bersama SCF untuk program peduli.
Gallery MoU Program Peduli SCF

Orang Kalah yang Tidak Mau Mengalah: Orang Rimba

Cover Novel PDT Karya Paul Tao Widodo
Adi Prasetijo PhD[1]

Bagi orang pemerintah, Orang Rimba atau Suku Anak Dalam adalah hanya sebuah angka deret penerima project semata. Angka penerima manfaat dari jumlah rumah yang dibangun, atau jumlah penerima bantuan beras dan lauk pauk. Angka deret yang mungkin dianggap tanpa jiwa. Bagi masyarakat luas di Sumatra, Orang Rimba mungkin dianggap angka deret yang tanpa makna.

Ya. Tanpa makna. Bagi orang kebanyakan Orang Rimba dianggap sebagai orang buangan. Cerita asal-usul mereka sebagai orang buangan, tentara yang berasal dari Pagaruyung kemudian tidak berhasil menjalankan misinya dan malu untuk kembali maka berdiamlah dihutan dataran rendah Sumatra tengah – antara Sumatra Barat dan Jambi. Atau cerita bahwa sebenarnya adalah sisi terpisah dari buah gelumpang bersama Orang Melayu dan melakukan perjanjian untuk selalu menjaga sikap dan persumpahan. Dan mitos ini selalu menjadi pembenar bagi masyarakat Melayu untuk selalu mengalahkan mereka. Cerita yang selalu menjelaskan posisi mereka bahwa mereka selalu dibawah dan kalah.

Novel ini tentang Orang Rimba yang selalu dalam posisi termarjinalkan. Sangat jarang, bahkan menurut saya ini adalah novel pertama dari sudut pandang Orang Rimba sendiri. Meskipun penulis belum pernah melakukan perjalanan dan penelitian terhadap Orang Rimba, namun sudut pandang orang pertama dari Orang Rimba perlu diapresiasi. Sudut pandang bahwa sebenarnya mereka bukanlah orang yang benar-benar kalah.

Selama ini Orang Rimba selalu diposisikan sebagai orang-orang yang kalah. Sangat jarang diceritakan bahwa Orang Rimba juga mampu melakukan sesuatu untuk hidupnya. Ketokohan “Rima”, seorang janda dengan 8 orang anak, dan menjadi kepala rombong memang bukanlah hal yang mudah ditemui dalam kehidupan Orang Rimba. Sangat jarang atau bahkan belum ada cerita bahwa perempuan menjadi kepada rombong Orang Rimba. Meskipun begitu novel ini ingin menunjukan bahwa bukanlah omong kosong bahwa suatu saat perempuan bisa menjadi pemimpin bagi Orang Rimba.

Perempuan bagi Orang Rimba mempunyai makna yang kuat. Ada tiga persumpahan bagi Orang Rimba yang menunjukan itu, “Rajo nan diperturut”, “Rajo nan disembah”, dan “Rajo nan dipermalu’on”. Raja nan diperturut adalah anak, raja nan disembah adalah pemerintah atau penguasa, dan raja yang dipermalukan adalah perempuan. Artinya bahwa perempuan adalah seseorang yang memang harus dijaga dari perbuatan yang memalukan. Mereka dijaga agar tidak sembarangan bertemu dengan orang luar. Bagi Orang Rimba, orang luar adalah membawa keburukan. Hal itu dinampakan dalam beberapa taboo atau pantongon bagi Orang Rimba dan perempuan untuk membatasi bertemu dengan orang luar. Namun demikian halnya, banyak orang luar yang kemudian masuk ke dalam hutan untuk merambah. Pembagian dunia kosmologi yang awalnya menjadi kesepakatan bersama ini kemudian mempengaruhi bagaimana Orang Rimba melihat dunianya kembali. Dunia yang dulunya bagi mereka adalah rumah besar, sekarang bukan hanya milik mereka tetapi sudah menjadi milik semua orang. Dan bagi saya, perempuan mempunyai peran yang penting dibalik layar bagi keluarga dan kelompoknya. Saya teringat, saya dapat diterima dengan baik dalam suatu kelompok Orang Rimba yang lain karena induk[2] Tarib menghantar saya dan membawa saya ke dalam kelompok tersebut.

Bagi Rima, sang tokoh, mereka bukanlah cerita kekalahan. Bagi Rima, menjalani hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menentukan bagaimana mereka terus hidup sebagai Orang Rimba. Cerita Rima, bagi saya adalah cerita Orang Rimba yang tidak mau mengalah kepada kekalahan itu sendiri.  Dari catatan KKI Warsi sendiri, sampai tahun 2015, terdapat kurang lebih 21 kasus konflik antara Orang Rimba dan pihak luar, dan menyebabkan 15 Orang Rimba meninggal dunia (Prasetijo,2014). Suatu cerita yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Orang Rimba juga berjuang. Mereka juga tidak mau mengalah dengan mudah. Cerita Rima dan anak-anaknya adalah cerita bahwa mereka tidak mau mengalah kepada keadaan yang tidak mendukung lagi keberadaan mereka.

Dan Rima sendiri berjalan dan berjuang bersama anak-anaknya sampai akhir. Sampai hilangnya daun terakhir di hutan, dan disitulah akhir yang namanya Orang Rimba.













[1] Peneliti Orang Rimba, dosen Antropologi Sosial Undip
[2] sebutan Ibu bagi Orang Rimba
Gallery Novel Suku Anak Dalam (SAD)

Rabu, 14 September 2016

Mengukir Kulek Terakhir

Cover draf buku Kulek Terakhir. Dokumen MPM
Sesepuh Suku Sawang Gatong Udin (76) mengatakan, kata Ameng dalam Bahasa Laut memiliki arti ’Orang’ dan Sawang artinya Laut. Jadi Orang Laut bisa pula disebut Ameng Sawang. Sedangkan kata ’Sewang’ dalam Bahasa Laut memiliki arti ’uang 10 sen’. Dalam sejumlah literatur berbahasa Belanda juga tak pernah muncul kata ’Sewang’ sebagai nama dari komunitas Orang Laut di Pulau Belitung. Setidaknya hal itu berlaku pada literatur terbitan abad ke-19 maupun awal abad ke-20 masehi.

Tapi siapakah sesungguhnya suku sawang, yang jumlahnya menyusut dan terancam punah? Dari hasil penelusuran Air Mata Air (Amair) Belitung, hanya sekitar 200 jiwa saja, dan hanya sekitar 25 persen saja yang masih mampu berbahasa Sawang.

Untuk itu akan segera terbit buku kajian tentang suku ini dengan judul Kulek (perahu) Terakhir, yang ditulis seorang wartawan  di Belitung yang terlibat  dalam Program Peduli di Belitong Timur, yaitu Wahyu Kurniawan.


AMAIR Buku Program Peduli Suku Sawang

Rabu, 07 September 2016

Novelis Kalimantan Barat Luncurkan Novel tentang SAD

Order Novel di sini
By Alexander Mering

Desember 2014 lalu saya, bertemu Mak Marni, seorang ketua rombong (kelompok) Suku Anak Dalam (SAD) atau yang kerap disebut orang rimba di hutan kecil, di Kabupaten Damasraya, Provinsi Sumatera Barat.

Ingatan saya tentang Mak Marni yang terjepit dan berusaha bertahan hidup bersama beberapa orang anak dan cucunya di antara perkebunan kelapa sawit, begitu menggangu saya.   Sampai akhirnya lahirlah sebuah puisi berjudul Kunang-kunang Hutan.

Saya publish puisi itu di blog pribadi saya, http://wisnupamungkas.blogspot.com, dan juga saya broadcast ke facebook, sambil menambahkan lagi beberapa catatan tentang betapa tidak bahagianya saya di malam natal setelah mengetahui Mak Marni sekeluarga pula kelaparan karena tak mendapat pasokan bahan makanan.

Tanpa di duga, Paul Tao Widodo, penulis novel sejarah Republik Lanfang dari Kalimantan Barat mengirim SMS, mengungkapkan keprihatiannannya. Tak hanya Paul, simpati dari berbagai teman pun berdatangan. Baik yang mengirim ke wall facebok saya, WA maupun telepon langsung. Bahkan beberapa teman sastrawan dan di Malaysia mengomentari puisi saya dan ingin ikut menyumbang, untuk meringankan beban Mak Marni.

“Bang, saya akan membuat novel tentang  orang rimba itu. Hanya itu yang bisa saya lakukan, dan sebagian uang penjualan novel itu bisa kita sumbangkan pada mereka,” kata  Paul, sehari menjelang Natal.   Kami membicarakan niatnya itu sambil menyerumput kopi di beranda rumahku di Pontianak.

Saya terpesona. Karena dia bukan saja tak pernah bertemu Mak Marni, atau orang rimba yang lain, bahkan kakinya belum pernah menginjak tanah Sumatera.

Pada awalnya saya sempat ragu untuk membantunya. Terutama karena kesibukan rutin saya, selain itu pasti tidak mudah juga bagi Paul menulis sesuatu yang sangat baru, apalagi tak sungguh-sungguh mengenal atmosfir dimana kisah tersebut diceritakan.  Belum lagi soal bahasa, membangun dialog dalam basa lokal, dan para pelaku dan tokoh ceritanya yang pastilah sebagian orang Sumatera Barat.  Tapi bukankah Karl Friedrich May yang lahir di Jerman juga tidak pernah ke perkampungan orang Indian di bagian baraf Boffalo atau ke Newyork, ketika menulis kisah pertualangan Winnetou?

Tapi ini sebuah niat, tulus. Dia ingin membantu, dan bukan untuk membuat tesis sejarah. Singkat kata, saya menyetujui ideanya, dan berjanji akan segera membangun contact dengan para fasilitator Program Peduli  SSS Pundi di Sumatera yang bekerja mendampingi Mak Marni dan SAD yang lain untuk mendapatkan data. Mulai dari sebaran, konflik yang dialami, hingga tetek benegek sederahana, seperti peta kabupaten Damasraya yang bisa dipakai membangun narasi tentang pergulatan Mak Marni  dan para SAD lainnya di Sumatera.

Saya membantunya menyuplai data sebanyak-banyaknya, membantu mengoreksi tulisannya, mengedit Bab demi Bab, mengutak-atik plot cerita, memintanya mengecek dan recheck lagi soal pemakaian istilah, kata-kata dan pribahasa yang digunakan para tokoh cerita.  

Buku ini menjadi menarik, karena Paul tidak menggunakan satu sudut pandang saja, yaitu orang SAD, tetapi juga dari sudut para aktivis NGO, suara koorperasi yang ditunding paling bertanggung jawab terhadap nasib SAD, dan bahkan membandingkannya dengan nasib suku Dayak di Kalimantan Barat—yang nasibnya tak jauh berbeda—dimana Paul tumbuh besar menjadi penulis.

Karena itulah Paul memilih judul untuk Novel ini: Perempuan di Ujung Tembawang. Yaitu sebuah system agroforestri dalam masyarakat adat yang mulai banyak diperbincangkan para peneliti luar dan dalam negeri.

Dummy buku telah selesai di cetak oleh PT. TOP Indonesia, dan rencananya kan diluncurkan pada malam amal untuk SAD di Kabupaten Damasraya, kerjasama SSS Pundi Sumatera dan Kabupaten Damasraya.

Bagi anda yang ingin memesan Novel Perempuan di Ujung Tembawang (PDT) silahkan order di link ini.

***





Novel Program Peduli SSS Pundi Suku Anak Dalam (SAD)

Senin, 05 September 2016

Kembali ke Nilai-Nilai Luhur Masyarakat Adat Indonesia


Tari dayak dari desa wisata Long Anai. Photo dok Peduli Adat


“PRESS RILIS PEDULI DAY”
  
JAKARTA - Sudah saatnya Indonesia kembali ke nilai-nilai luhur masyarakat adat dalam segenap gerak pembangunan bagi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Kondisi ini menjadi sangat penting, mengingat sudah 71 tahun merdeka, tetapi kondisi masyarakat adat dan lokal terpencil di negeri ini belum mendapatkan arti akan kemerdekaan.

“Bahkan Menteri Sosial sendiri sudah menyerukan agar segera dilakukan new initiative guna menjawab persoalan-persoalan tersebut,” ujar Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan, Kementeriaan Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), I Nyoman Shuida,  di Jakarta (27/8).

Nyoman meyampaikan hal tersebut dalam rangka persiapan pelaksanaan event nasional, Peduli Day untuk mempertemukan seluruh pelaku, stakeholder dan penerima manfaat Program Peduli yang digelar oleh Partnership for Governance Reform – Kemitraan,  berkerjasama dengan Kemenko PMK, 31 Agustus 2016.

Nyoman menambahkan bahwa secara keseluruhan, program ini memiliki 6 (enam) sasaran yaitu anak dan remaja rentan, masyarakat adat terpencil, kelompok agama minoritas dan kepercayaan lokal, korban pelanggaran HAM, orang dengan disabilitas, dan kaum waria. Program ini kata dia, merupakan program yang diinisiasi pemerintah Indonesia untuk mendorong terjadinya inklusi sosial dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Program ini berada di bawah koordinasi Kemenko PMK, bekerjasama dengan The Asia Foundation dan Pemerintah Australia.

Sementara itu Project Manager  dari Partnership/Kemitraan,  Moch, Yasir Sani mengatakan lembaganya adalah salah satu pelaksana Program Peduli yang khusus  bekerja untuk pilar “masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam”.

Bentuk inklusi sosial yang didorong Partnership yaitu adanya diterimanya peran dan posisi masyarakat adat dan lokal terpencil yang terkucilkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; terpenuhinya hak atas layanan dasar, membuka akses bagi masyarakat adat dan lokal terpencil yang tereksklusi untuk memperoleh kesetaraan sosial; serta mendorong terbangunnya kemitraan dengan semua kelompok masyarakat sebagai bentuk sosial inklusi.

Sejak memulai program ini dua tahun lalu hingga pertengahan Agustus 2016, Partnership telah menjangkau  tidak kurang dari 40 ribu jiwa penerima manfaat langsung maupun tak langsung yang tersebar di 19 kabupaten dan 13 provinsi di Indonesia.

“Sekitar sembilan puluh persen layanan dasar di wilayah dampingan mitra-mitra kami sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Terutama layanan pendidikan dan kesehatan, termasuk akses terhadap kepemilikan administrasi kependudukan,” kata Sani.

Selain berhasil meningkatkan partisipasi komunitas masyarakat adat dalam proses-proses perencanaan pembangunan, program ini juga telah mampu meningkatkan peran pemerintah daerah maupun pusat dalam mendorong terjadinya inklusi sosial yang muncul dalam bentuk kebijakan dan politik anggaran mulai dari level desa, Pemkab hingga pemerintah pusat.

Para anggota komunitas juga sudah dapat mengakses berbagai bantuan pemerintah, seperti kartu PJS, kartu KIP, program kejar paket A, B dan C, hingga infrastruktur jalan dan perumahan, meski pun masih dalam jumlah terbatas. Di beberapa wilayah dampingan juga telah tumbuh aktivitas ekonomi produktif, yang dapat membantu kelangsungan hidup komunitas, peternakan, perkebunan kopi, sayur-sayuran, hingga koperasi

“Inilah yang dinamakan sosial inklusi, yaitu mengembalikan nilai-nilai luhur masyarakat adat dan lokal terpencil dalam bentuk sikap kegotongroyongan, saling tolong menolong, dan bertoleransi antar sesama menjadi “ruh” dalam mengatasi persoalan yang ada di masyarakat khususnya lokasi-lokasi yang ada masyarakat adat dan lokal terpencil,” tegas Sani.  Dia menambahkan bahwa capaian yang dijelaskannya tadi, tidak terlepas dari keterlibatan seluruh lembaga pendukung, seluruh Civil Society Organization (CSO) mitra, stakeholder nasional maupun lokal termasuk para champion di level komunitas yang perannya sangat besar di lapangan.

Untuk menyelenggarakan program ini Partnership mengerahkan tak kurang dari 220 kader, ditambah 70 lebih fasilitator yang berasal dari 14 CSO mitra lokal, yaitu SSS Pundi Sumatera, Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Karsa Institute, Yayasan Tanpa Batas (YTB), Samanta, Sulawesi Community Foundation (SCF), AMAN Riau, AMAN Maluku, Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta, Yayasan Desantara, Kawal Borneo Community Foundation (KBCF), Air Mata Air (AMAIR), MPM Muhammadiyah, dan Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM).  Setiap lembaga menangani suku-suku di wilayah kerjanya masing-masing. Selangkapnya  data dan lokasi program peduli bisa diakses di:
http://www.peduliadat.org/2016/06/infografis-profil-masyarakat-adat.html.

Peduli  day yang akan menghadirkan presenter beken, Prita Laura ini juga akan menyuguhkan beragam aktivitas seperti talks how, pentas seni, pidato kebudayaan, pemutaran video pendek, pameran photo hingga display produk komunitas masyarakat adat dampingan Program Peduli. *

Untuk informasi dan konfirmasi lebih lanjut dapat menghubungi Manager Program Peduli Kemitraan

Yasir Sani
HP: 0813 1666 7077
Email: yasir.sani@kemitraan.or.id
Dayak Desantara Peduli day Program Peduli

Rabu, 31 Agustus 2016

Buku Peduli Adat dalam Bingkai Inklusi

Klik disini untuk download buku
Begitu banyak kisah yang tak terabadikan tentang masyarakat adat dalam bingkai inklusi sosial di Indonesia.

Dari begitu banyak moment tersebut, Kemitraan  bekersajamsa 13 lembaga mitra Program Peduli/CSO mengumpulkan keping-keping moment tersebut dalam bentuk buku potret yang berjudul Peduli Adat dalam Bingkai Inklusi. 

Foto ini dipotret oleh para fasilitator Program Peduli yang tersebar di 13 Provinsi di Indonesia. Buku ini diluncurkan pada acara Peduli Day, Program Peduli oleh Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (“Partnership”) di Gedung Perfileman Usmar Ismail, Jakarta, 31 Agustus 2016.

Untuk dapat memiliki versi elektronik buku ini, silahkan pembaca mendownloadnya di sini:

Buku Download Program Peduli

 

  • Ikuti Peduli Adat

    Dengan cara mendaftarkan email anda di sini!

    Copyright © Peduli Adat™ is a registered trademark.
    Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.