Hidup Setara dalam Sebuah Negara

Gerakan Inklusi Sosial masyarakat adat untuk kesejahteraan

Info Pilihan

Info Terkini

Selasa, 22 Agustus 2017

Cerita Rakyat Dayak Kenyah Lepoq Jalan

Klik disini
Berikut ini adalah buku kumpulan folklor hasil dari penulisan yang dilakukan tim Desantara bekerja sama dengan Naladwipa Institute atas dukungan Kemitraan melalui Program Peduli. Sebagai bagian dari kerja kebudayaan, penulisan ini menjadi penting untuk memberikan ruang bagi proses pendokumentasian pengetahuan komunitas. Proses ini bagian dari kerja pemaknaan terhadap proses perubahan yang terjadi dalam komunitas dan bagaimana komunitas melakukan adaptasi terhadap perubahan, termasuk dengan menggunakan berbagai simbol. 
Buku Dayak Desantara

Jumat, 18 Agustus 2017

Merdeka Itu adalah Menyanyi Hari Merdeka

https://www.youtube.com/watch?v=rwhz_X239zU&feature=youtu.be

Warga Cina Benteng merayakan HUT RI 72 dengan bernyanyi bersama lagu Hari Merdeka, di Aula Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Neglasari, Kota Tanggerang. Video by PPSW Jakarta. Untuk menonton silahkan klick gambar.
PPSW Video

Kamis, 17 Agustus 2017

Makna Merdeka Bagi Masyarakat Adat

Masyarakat Adat yang termarginalkan tidak memerlukan kemerdekaan yang muluk-muluk seperti yang ditulis dalam teks proklamasi dan janji-janji negara. Mereka hanya memerlukan pengakuan dan negara tidak lagi malah mefasilitasi para begal-begal 'Kurawa' dan gerombolan spekulan datang merampas, merampok  bahkan memperkosa hutan, tanah, sungai gunung dan bentang alam yang merupakan tempat mereka menyimpan memori nenek moyang maupun berbagai pengetahuan kehidupan yang maha real maupun rahasia semesta.

Masyarakat Adat hanya perlu kebebasan ruang untuk menentukan nasib dan kehidupannya sendiri. Sebab hanya masyaakat yang bebas tanpa tekanan, itimidasi dan terorlah yang bisa kreatif, produktif dan berbahagia dalam bingkai kesatuan negara republik Indonesia. #Merdeka

Design & text @alexandermering

Merdeka Photos

Rabu, 16 Agustus 2017

Arti Merdeka untuk SAD

Bejar di dalam gelap.

Merdeka memiliki arti yang beragam bagi mereka yang secara ekonomi, sosial, politik, budaya dan geografis terisolasi. Episode ini menampilkan masyarakat adat SUKU ANAK DALAM di jambi.
Inilah arti 'Merdeka' itu :

#Merdeka itu, ketika dalam keterbatasan, kami masih bisa belajar. Ketika kami mendapatkan hak yang sama atas pendidikan, Meski tanpa penerangan listrik, tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap belajar (anak-anak komunitas Suku Anak Dalam, Dusun Pasir Putih Kec. Pelepat Kab. Bungo Jambi) 

#Merdeka itu, ketika kami bisa berseragam sekolah seperti anak-anak yang lainnya. Meski hidup beratap terpal di “sudung” dan orang-orang tua kami buta huruf, justru menjadi motivasi kami untuk dapat terus bersekolah. Kami ingin pintar, agar keluar dari kemarjinalan kami. Ali dan Sumar, anak SAD dari Rombong Syargawi SPE, Kab. Sarolangun Jambi). Baca selengkapnya di sini
Merdeka Photos

Selasa, 15 Agustus 2017

Arti Kemerdekaan bagi Dayak Kenyah Lepoq Jalan


Kali ini kami mengangkat cerita mengenai masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan di desa Lung Anai di Kutai Kartanegara. Desa Lung Anai sendiri sudah menjadi desa Budaya sejak tahun 2005 sebagai hasil pemekaran Desa Sungai Payang.

Namun demikian, masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan masih mengalami permasalahan ketidakpastian ruang hidup dan sumber penghidupan akibat konflik lahan dengan masyarakat desa sekitarnya dan perusahaan-perusahaan besar. Mereka juga menerima stigma sebagai masyarakat pendatang dan pencuri lahan oleh masyarakat desa sekitarnya.

Masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq sendiri sebenarnya masih memegang teguh kebudayaan dan adat istiadat mereka. salah satu budaya yang masih dilaksanakan hingga saat ini adalah Uman Undrat atau pesta panen Lung Anai sebagai rasa syukur atas panen padi ladang mereka.
Kemerdekaan bagi mereka memiliki banyak arti. #Merdeka itu berarti kebebasan mengolah tanah sesuai dengan tradisi mereka. Merdeka itu berarti bebas dari rongrongan korporasi yang berusaha mengambil tanah penghidupan mereka. Merdeka berarti adanya perhatian penuh dari pemerintah untuk ikut mengembangkan adat istiadat suku dayak di Lung Anai sebagai kekayaan nusantara. Sumber asli klik di Peduli Adat.
Gallery Photos

Merdeka menurut Warga Tobalo dan To Garibo



Menjelang hari kemerdekaan RI ke 72 ini, kami ingin menampilkan serial arti kemerdekaan bagi sebagian besar Masyarakat Adat yang berkerja bersama kami dalam Program Peduli. Edisi kali ini kami akan menampilkan apa itu kemerdekaan bagi masyarakat adat To Balo dan To Garibo di desa Bulo Bulo, Kab Barru dan masyarakat di desa Kahayya, Kab Bulukumba di Sulawesi Selatan.
Masyarakat di kedua desa tersebut mengalami keterisoliran secara geografis sehingga banyak warga pergi merantau dan fasilitas kesehatan maupun pendikan kurang memadai di wilayah tersebut.

Sementara itu terdapat stigma negatif terhadap suku To Balo yang dianggap memiliki kulit belang dan dianggap penyakit menular sehingga warga enggan berinteraksi dengan mereka.
Pada hari kemerdekaan ini, marilah mendengar apa kemerdekaan itu bagi mereka yang jauh dari berbagai fasilitas yang mungkin terdengar sepele bagi kita.

#Merdeka itu jika desa kami mendapat layanan kesehatan sehingga kami tidak harus keluar desa untuk berobat. Merdeka itu bagi kami kalau karena keterisolasian ini, kami tidak menjadi miskin dan tertekan karena ekonomi serta diberikan kemudahan untuk berusaha. Merdeka itu juga ketika anak-anak kami mendapat pendidikan meski wilayah kami sulit dijangkau. Detil silahkan klik FB Peduli Adat.
Inklusif Merdeka Photos

Senin, 14 Agustus 2017

Sambut HUT RI, Anak SAD menyanyikan Indonesia Pusaka


Dalam rangka pemperingati HUT ke 72 Republik Indonesia, anak-anak Suku Anak Dalam (SAD), artis Klick Studio, aktivis  SSS Pundi dan warga Jambi menyanyikan lagu Indonesia Pusaka.
Video

Jumat, 11 Agustus 2017

SCF: Merdeka itu Peduli

https://www.youtube.com/watch?v=2zMn9mMi8SM&feature=youtu.be



Memaknai peringatan ke 72 HUT kemerdeaan Republik Indonesia, Sulawesi Community Foundation (SCF) membuat sebuah film pendek yang menggambarkan makna merdeka bagi kaum marginal yang tereksklusi di Sulawesi Selatan, khususnya di Desa Kahaya dan Bulo-bulo tempat pelaksanaan program Peduli. Untuk menonton vilm ini silahkan klik link berikut ini.
Gallery Video

Selasa, 06 Juni 2017

Cegah Kebakaran, Warga Baduy Luar Butuh Mitigasi Bencana

Yasir Sani (PM Kemitraan) ketika mengunjungi warga Baduy Luar yang bertahan sementara di bawah terpal dari plastik setelah dilanda musibah kebakaran minggu lalu. Photo Aji Panjalu.
*Kemitraan dan RMI Serahkan Bantuan

Banten-Untuk mencegah bencana kebakaran yang melanda perkampungan, warga Baduy membutuhkan program mitigasi guna mencegah bencana kebakaran berulang kembali.

Demikian diungkapkan oleh Communications Specialist Kemitraan, Alexander Mering, usai melakukan kunjungan dan menyerahkan sejumlah bantuan bagi korban kebakaran di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (5/6) kemarin.

“Pengetahuan mitigasi ini dimaksud, bisa digali dari kearifan lokal masyarakat Baduy sendiri, terutama Baduy Dalam. Jadi tidak harus menggunakan alat-alat canggih dan modern,” tegas Mering. 

Dia sangat yakin, bahwa peletakan atau cara memasang hawu (Tungku dari Tanah Liat) dan Parako (Perapian) di dalam rumah orang Baduy Dalam sudah diperhitungkan dengan cermat. Karena dilihat dari struktur maupun secara teknis pemasangan, kelihatan kalau hal tersebut merupakan bagian dari mitigasi bencana kebakaran.
Dari pengalamannya bekerja bersama masyarakat adat lebih dari 10 tahun terakhir, Mering menemukan cukup banyak praktik-praktik dalam budaya masyarakat adat berupa tatakelola pengendalian bencana. Seperti pengendalian api, air, tanah, udara bahkan hama. Misalnya  kata dia yang pernah dijumpainya di masyarakat Dayak di Kalimantan, Kasepuhan di Lebak,  dan Topo Uma di dataran tinggi Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Untuk itu pada pelaksanaan fase III Program Peduli yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) di wilayah masyarakat Baduy dan Kasepuhan, di Lebak, dia berharap juga bisa menemukan kearifan lokal kedua masyarakat adat tersebut yang terkait dengan mitigasi bencana, salah satunya bencana kebakaran. Ditambahkannya, Program Peduli sendiri merupakan program pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

Sejak peristiwa kebakaran yang melanda 83 rumah milik 118 KK Baduy Luar,  di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabuapten Lebak, Banten Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership) bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) turut melakukan penggalangan dana dan menyalurkan sejumlah bantuan.  

Ketua RT setempat, Ahdi yang menerima langsung bantuan mengatakan hingga Senin (5/6) kemarin sudah cukup banyak bantuan yang mengalir ke Cisaban. Baik yang disalurkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, private sector dan individu yang bersimpati pada korban. 

Bantuan berupa barang, bahan bangunan, pakaian, makanan maupun uang.   Antara lain bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberikan bantuan senilai Rp 2,4 miliar lebih. Terdiri dari uang Jaminan Hidup (Jadup) sebesar Rp 328.500.000 dan bantuan logistik senilai Rp 68 juta lebih.
Sementara itu staf RMI, Novytya Ariyanti yang turut mengantar bantuan bersama wartawan dan dua relawan lainnya mengatakan, bahwa kedatangan RMI, Kemitraan, dan PWKI, kali ini adalah untuk yang kedua, setelah minggu lalu menyalurkan bantuan berupa uang dan selimut kepada para korban. Saat ini kata Novytya Ariyanti, warga Cisaban tengah sibuk membangun rumah-rumah tradisional mereka dari kayu dan bambu. (*)
Baduy Kliping RMI

Senin, 05 Juni 2017

Aroma Kopi Inklusi dari Sulawesi


Aroma kopi Toratima dari Sigi, Sulawesi Tengah dan Kopi Kahayya, dari Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan telah membuat Isma Savitri, wartawati Tempo English, Jakarta kepincut.

Media bergengsi untuk pembaca kelas atas baik dalam dan luar negeri ini mewawancarai bang Rahmat Saleh (Karsa Institute) dan Bang Naufal Achmad dari Sulawesi Community Foundation (SCF), teman-teman serta warga setempat tentang produk kopi yang dihasilkan oleh petani dari sejumlah desa di jantung pulau Sulawesi yang menjadi site Program Peduli selama ini. 

Wawancara ini merupakan tindak lanjut dari diskusi (Kemitraan) dengan mbak Isma. Diskusi-dikusi reguler yang kami lakukan bersama-sama para wartawan dan pelaku media seperti ini, merupakan ruang yang strategis dalam menyampaikan berbagai praktik-praktik baik yang telah dicapai oleh Program Peduli di bawah Koordinator Kementerian Kemenko PMK.

Tempo English, mempublikasikan hasil liputannya, pada edisi Majalah Tempo English minggu ini. Silahkan anda membaca kisanya sambil menengak secangkir kopi. Bagi yang tidak majalahnya, silahkan beli di toko buku terdekat di kota anda, atau memesannya langsung ke Tempo English.
Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih kepada mbak Isma Savitri dan Tempo English, serta teman-teman dari SCF dan Karsa Institute serta semua warga Sigi dan Kahayya yang telah mengharumkan nama indonesia dengan secangkir kopinya yang luar biasa.

Monica Tanuhandaru Yasir Sani Widya Anggraini Novi Anggriani Harliani Lia Ahmad Syaifudin Naufal Achmad Takhta Pandu Padmanegara Kawan Yohanes @PeduliAdat Alexander Mering @kemitraan_pgr Karsa Palu Ade Siti Barokah Tuan Bustom Elias Tana Moning Anto Gagasn Budi Budiansyah Florensius Sius Kopika Kartiyus Agis relawan hijau
https://magz.tempo.co/…/…/05/30/OUT/33194/Coffee-Craze/41/1
Karsa Institute Kliping SCF Tempo English

Rabu, 31 Mei 2017

Riset Tentang Dayak Kenyah, Kader Peduli Diundang ke Norwegia

Asman Azis

Jakarta-Studi mengenai pergulatan agama, pariwisata dan ruang hidup masyarakat Dayak Kenyah di Lung Anai, Kalimantan Timur  mengungkapkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara hancurnya sumber daya alam di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan dimulainya operasi militer pemerintah Indonesia tahun 1965 di sana.

Hal tersebut diungkapkan Asman Azis, Program Manager Desantara, saat menghadiri rapat konsolidasi Program Peduli, pilar Masyarakat Adat yang diselenggarakan Partnership-Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Jakarta, Kamis (1/6) kemarin.

“Saat itu jika ada warga yang tidak memeluk agama versi negara, mereka diintimidasi oleh militer dan dituduh PKI,” tegas Asman yang juga Ketua Lakpesdam NU Kaltim.

Dikatakannya, pada 1963, saat pemerintah Indonesia melancarkan operasi penumpasan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku), disusul dengan peristiwa 30 S/PKI  pada tahun 1965, orang Dayak Kenyah yang tidak memeluk salah satu agama resmi negara bukan saja dicap sebagai PKI, bahkan banyak yang disiksa serta dibunuh.

Kondisi inilah yang kemudian kata Asman, memuluskan berbagai praktik eksploitasi Sumber Daya Alam di Kalimantan, berupa Hak Pengusahaan Hutan (HPH), pertambangan dan perkebunan bersekala besar yang merugikan masyarakat Dayak, terutama Dayak Kenyah. Dimana selama 1996-2012 saja, Kaltim kehilangan hutan alam rata-rata seluas 92.900 hektare per tahun. Sementara secara nasional Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar pertahun, kondisi ini diperparah lagi dengan maraknya alih fungsi lahan serta kebakaran hutan yang terus menerus terjadi. 

“Di dalam salah satu chapter tesis saya itu, secara khusus membahas bagaimana peran Program Peduli dalam mendorong restorasi nilai-nilai budaya dan pengakuan terhadap masyarakat Adat Dayak Kenyah.  Saya menyebutnya constructive engagement,” kata Asman.

Warga Dayak Berladang di dekat Tambang Batu Bara, di Kaltim
Karena sejarah konflik yang panjang tersebut, serta konflik tenurial dengan pemodal  membuat masyarakat adat Dayak Kenyah terpojok dan tidak memiliki ruang untuk hidup dan menjalankan nilai-nilai budaya mereka masyarakat adat yang sekaligus juga adalah warga negara.

Penelitian untuk tesis yang dilaksanakan selama pelaksanaan Program Peduli 2017-2016 di Lung Anai ini, membuat Asman (yang baru saja menyelesaikan studinya di Center for Religious and Cross Culture Studies (CRCS), Sekolah Pasca Sarjana UGM) diundang oleh Royal Norwegian Ministry of Climate and Environment dan UNDP untuk menghadiri pertemuan Interfaith rainforest initiative di kota Oslo, Norwegia pada 19-21 Juni 2017 mendatang.

Pertemuan Lintas Iman, deforestasi dan perubahan iklim ini adalah salah satu agenda terkait kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Norwegia tentang RDD+ yang sudah dimulai sejak Mei 2010.

Terpilihnya Asman untuk menghadiri pertemuan tersebut, juga tidak terlepas dari locus penelitiannya yang mengambil studi kasus di Kaltim. Dimana hanya tinggal 3 pulau saja di Indonesia (Sumatera, Kalimantan, dan Papua) yang relatif masih punya hutan, namun juga sangat cepat laju deforestasinya. Dan hutan di ketiga pulau ini pula yang masih tersisa dan dapat diandalkan untuk mengurangi efek rumah kaca. (Mering)

Dayak Desantara Gallery

Senin, 30 Januari 2017

Champion Peduli dari Belitung Timur

Fikri Firdianto, ketika menerima Piagam Penghargaan dari Pemerintah Daerah Belitung Timur, pada peringatan HUT Kabupaten tersebut.
Fikri Firdianto, satu fasilitator Program Peduli dan aktivitis pemberdayaan di Kabupaten Belitung Timur untuk pilar masyarakat adat meraih penghargaan sebagai Pemuda Pelopor, pada peringatan Hari Jadi Kabupaten tersebut.

Bersama team Peduli LPMP AMAIR, Fikri telah mendampingi masyarakat Suku Sawang yang terekslusi untuk inklusi sosial dan pemenuhan hak-hak dasar mereka sebagai sesama warga negara Indonesia.  Fikri adalah pemuda dan champion yang memilih 'nyaring' bekerja ketimbang banyak bicara sesuai motonya. Selamat untuk Fikri Firdianto , teruslah berjuang untuk orang kecil yang kerab terabaikan!

Redaksi Peduli Adat
AMAIR Champions Photos Program Peduli Suku Sawang

 

  • Ikuti Peduli Adat

    Dengan cara mendaftarkan email anda di sini!

    Copyright © Peduli Adat™ is a registered trademark.
    Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.