Hidup Setara dalam Sebuah Negara

Gerakan Inklusi Sosial masyarakat adat untuk kesejahteraan

Info Pilihan

Info Terkini

Selasa, 06 Juni 2017

Cegah Kebakaran, Warga Baduy Luar Butuh Mitigasi Bencana

Yasir Sani (PM Kemitraan) ketika mengunjungi warga Baduy Luar yang bertahan sementara di bawah terpal dari plastik setelah dilanda musibah kebakaran minggu lalu. Photo Aji Panjalu.
*Kemitraan dan RMI Serahkan Bantuan

Banten-Untuk mencegah bencana kebakaran yang melanda perkampungan, warga Baduy membutuhkan program mitigasi guna mencegah bencana kebakaran berulang kembali.

Demikian diungkapkan oleh Communications Specialist Kemitraan, Alexander Mering, usai melakukan kunjungan dan menyerahkan sejumlah bantuan bagi korban kebakaran di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (5/6) kemarin.

“Pengetahuan mitigasi ini dimaksud, bisa digali dari kearifan lokal masyarakat Baduy sendiri, terutama Baduy Dalam. Jadi tidak harus menggunakan alat-alat canggih dan modern,” tegas Mering. 

Dia sangat yakin, bahwa peletakan atau cara memasang hawu (Tungku dari Tanah Liat) dan Parako (Perapian) di dalam rumah orang Baduy Dalam sudah diperhitungkan dengan cermat. Karena dilihat dari struktur maupun secara teknis pemasangan, kelihatan kalau hal tersebut merupakan bagian dari mitigasi bencana kebakaran.
Dari pengalamannya bekerja bersama masyarakat adat lebih dari 10 tahun terakhir, Mering menemukan cukup banyak praktik-praktik dalam budaya masyarakat adat berupa tatakelola pengendalian bencana. Seperti pengendalian api, air, tanah, udara bahkan hama. Misalnya  kata dia yang pernah dijumpainya di masyarakat Dayak di Kalimantan, Kasepuhan di Lebak,  dan Topo Uma di dataran tinggi Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Untuk itu pada pelaksanaan fase III Program Peduli yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) di wilayah masyarakat Baduy dan Kasepuhan, di Lebak, dia berharap juga bisa menemukan kearifan lokal kedua masyarakat adat tersebut yang terkait dengan mitigasi bencana, salah satunya bencana kebakaran. Ditambahkannya, Program Peduli sendiri merupakan program pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

Sejak peristiwa kebakaran yang melanda 83 rumah milik 118 KK Baduy Luar,  di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabuapten Lebak, Banten Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership) bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) turut melakukan penggalangan dana dan menyalurkan sejumlah bantuan.  

Ketua RT setempat, Ahdi yang menerima langsung bantuan mengatakan hingga Senin (5/6) kemarin sudah cukup banyak bantuan yang mengalir ke Cisaban. Baik yang disalurkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, private sector dan individu yang bersimpati pada korban. 

Bantuan berupa barang, bahan bangunan, pakaian, makanan maupun uang.   Antara lain bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberikan bantuan senilai Rp 2,4 miliar lebih. Terdiri dari uang Jaminan Hidup (Jadup) sebesar Rp 328.500.000 dan bantuan logistik senilai Rp 68 juta lebih.
Sementara itu staf RMI, Novytya Ariyanti yang turut mengantar bantuan bersama wartawan dan dua relawan lainnya mengatakan, bahwa kedatangan RMI, Kemitraan, dan PWKI, kali ini adalah untuk yang kedua, setelah minggu lalu menyalurkan bantuan berupa uang dan selimut kepada para korban. Saat ini kata Novytya Ariyanti, warga Cisaban tengah sibuk membangun rumah-rumah tradisional mereka dari kayu dan bambu. (*)
Baduy Kliping RMI

Senin, 05 Juni 2017

Aroma Kopi Inklusi dari Sulawesi


Aroma kopi Toratima dari Sigi, Sulawesi Tengah dan Kopi Kahayya, dari Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan telah membuat Isma Savitri, wartawati Tempo English, Jakarta kepincut.

Media bergengsi untuk pembaca kelas atas baik dalam dan luar negeri ini mewawancarai bang Rahmat Saleh (Karsa Institute) dan Bang Naufal Achmad dari Sulawesi Community Foundation (SCF), teman-teman serta warga setempat tentang produk kopi yang dihasilkan oleh petani dari sejumlah desa di jantung pulau Sulawesi yang menjadi site Program Peduli selama ini. 

Wawancara ini merupakan tindak lanjut dari diskusi (Kemitraan) dengan mbak Isma. Diskusi-dikusi reguler yang kami lakukan bersama-sama para wartawan dan pelaku media seperti ini, merupakan ruang yang strategis dalam menyampaikan berbagai praktik-praktik baik yang telah dicapai oleh Program Peduli di bawah Koordinator Kementerian Kemenko PMK.

Tempo English, mempublikasikan hasil liputannya, pada edisi Majalah Tempo English minggu ini. Silahkan anda membaca kisanya sambil menengak secangkir kopi. Bagi yang tidak majalahnya, silahkan beli di toko buku terdekat di kota anda, atau memesannya langsung ke Tempo English.
Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih kepada mbak Isma Savitri dan Tempo English, serta teman-teman dari SCF dan Karsa Institute serta semua warga Sigi dan Kahayya yang telah mengharumkan nama indonesia dengan secangkir kopinya yang luar biasa.

Monica Tanuhandaru Yasir Sani Widya Anggraini Novi Anggriani Harliani Lia Ahmad Syaifudin Naufal Achmad Takhta Pandu Padmanegara Kawan Yohanes @PeduliAdat Alexander Mering @kemitraan_pgr Karsa Palu Ade Siti Barokah Tuan Bustom Elias Tana Moning Anto Gagasn Budi Budiansyah Florensius Sius Kopika Kartiyus Agis relawan hijau
https://magz.tempo.co/…/…/05/30/OUT/33194/Coffee-Craze/41/1
Karsa Institute Kliping SCF Tempo English

Rabu, 31 Mei 2017

Riset Tentang Dayak Kenyah, Kader Peduli Diundang ke Norwegia

Asman Azis

Jakarta-Studi mengenai pergulatan agama, pariwisata dan ruang hidup masyarakat Dayak Kenyah di Lung Anai, Kalimantan Timur  mengungkapkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara hancurnya sumber daya alam di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan dimulainya operasi militer pemerintah Indonesia tahun 1965 di sana.

Hal tersebut diungkapkan Asman Azis, Program Manager Desantara, saat menghadiri rapat konsolidasi Program Peduli, pilar Masyarakat Adat yang diselenggarakan Partnership-Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Jakarta, Kamis (1/6) kemarin.

“Saat itu jika ada warga yang tidak memeluk agama versi negara, mereka diintimidasi oleh militer dan dituduh PKI,” tegas Asman yang juga Ketua Lakpesdam NU Kaltim.

Dikatakannya, pada 1963, saat pemerintah Indonesia melancarkan operasi penumpasan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku), disusul dengan peristiwa 30 S/PKI  pada tahun 1965, orang Dayak Kenyah yang tidak memeluk salah satu agama resmi negara bukan saja dicap sebagai PKI, bahkan banyak yang disiksa serta dibunuh.

Kondisi inilah yang kemudian kata Asman, memuluskan berbagai praktik eksploitasi Sumber Daya Alam di Kalimantan, berupa Hak Pengusahaan Hutan (HPH), pertambangan dan perkebunan bersekala besar yang merugikan masyarakat Dayak, terutama Dayak Kenyah. Dimana selama 1996-2012 saja, Kaltim kehilangan hutan alam rata-rata seluas 92.900 hektare per tahun. Sementara secara nasional Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar pertahun, kondisi ini diperparah lagi dengan maraknya alih fungsi lahan serta kebakaran hutan yang terus menerus terjadi. 

“Di dalam salah satu chapter tesis saya itu, secara khusus membahas bagaimana peran Program Peduli dalam mendorong restorasi nilai-nilai budaya dan pengakuan terhadap masyarakat Adat Dayak Kenyah.  Saya menyebutnya constructive engagement,” kata Asman.

Warga Dayak Berladang di dekat Tambang Batu Bara, di Kaltim
Karena sejarah konflik yang panjang tersebut, serta konflik tenurial dengan pemodal  membuat masyarakat adat Dayak Kenyah terpojok dan tidak memiliki ruang untuk hidup dan menjalankan nilai-nilai budaya mereka masyarakat adat yang sekaligus juga adalah warga negara.

Penelitian untuk tesis yang dilaksanakan selama pelaksanaan Program Peduli 2017-2016 di Lung Anai ini, membuat Asman (yang baru saja menyelesaikan studinya di Center for Religious and Cross Culture Studies (CRCS), Sekolah Pasca Sarjana UGM) diundang oleh Royal Norwegian Ministry of Climate and Environment dan UNDP untuk menghadiri pertemuan Interfaith rainforest initiative di kota Oslo, Norwegia pada 19-21 Juni 2017 mendatang.

Pertemuan Lintas Iman, deforestasi dan perubahan iklim ini adalah salah satu agenda terkait kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Norwegia tentang RDD+ yang sudah dimulai sejak Mei 2010.

Terpilihnya Asman untuk menghadiri pertemuan tersebut, juga tidak terlepas dari locus penelitiannya yang mengambil studi kasus di Kaltim. Dimana hanya tinggal 3 pulau saja di Indonesia (Sumatera, Kalimantan, dan Papua) yang relatif masih punya hutan, namun juga sangat cepat laju deforestasinya. Dan hutan di ketiga pulau ini pula yang masih tersisa dan dapat diandalkan untuk mengurangi efek rumah kaca. (Mering)

Dayak Desantara Gallery

Senin, 30 Januari 2017

Champion Peduli dari Belitung Timur

Fikri Firdianto, ketika menerima Piagam Penghargaan dari Pemerintah Daerah Belitung Timur, pada peringatan HUT Kabupaten tersebut.
Fikri Firdianto, satu fasilitator Program Peduli dan aktivitis pemberdayaan di Kabupaten Belitung Timur untuk pilar masyarakat adat meraih penghargaan sebagai Pemuda Pelopor, pada peringatan Hari Jadi Kabupaten tersebut.

Bersama team Peduli LPMP AMAIR, Fikri telah mendampingi masyarakat Suku Sawang yang terekslusi untuk inklusi sosial dan pemenuhan hak-hak dasar mereka sebagai sesama warga negara Indonesia.  Fikri adalah pemuda dan champion yang memilih 'nyaring' bekerja ketimbang banyak bicara sesuai motonya. Selamat untuk Fikri Firdianto , teruslah berjuang untuk orang kecil yang kerab terabaikan!

Redaksi Peduli Adat
AMAIR Champions Gallery Photos Program Peduli Suku Sawang

Senin, 31 Oktober 2016

Kemko PMK Jangkau 950.000 Warga Marginal

Ir Magdalena MM, menyampaikan sambutan workshop di Jambi. dok SSS Pundi
Jambi - Dari sekitar 4,5 juta jiwa rakyat Indonesia yang hidup dalam kondisi marginal dan terpinggirkan, Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemko PMK) baru mampu menjangkau 950.000 jiwa pada pelaksanaan Program Peduli fase kedua di tahun 2015-2016.
Demikian diungkapkan Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Kemko PMK, Magdalena, ketika menyampaikan sambutan workshop untuk Mendorong Sinergi Lintas Wilayah untuk Pemberdayaan komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Sepanjang Lintas Tengah Sumatera, di Jambi, Kamis (27/9). Berita selengkapnya bisa dibaca beritasatu.com  dan versi englisnya di teraju.id.
Gallery Kemenko PMK Kliping SSS Pundi

Selasa, 25 Oktober 2016

AMAIR Luncurkan Buku Tentang Suku Sawang

Oleh Wahyu Kurniawan*)

Kulek Terakhir, Sebuah Pengantar Sejarah Suku Sawang Gantong adalah sebuah buku yang membuka jalan bagi banyak pihak yang tertarik pada komunitas Suku Laut di Pulau Belitung, khususnya di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.
  
Secara harfiah, Kulek adalah nama dari sebuah perahu khas yang dulu digunakan oleh Suku Sawang untuk mencari nafkah. Setelah melalui sejarah yang panjang, jumlah perahu itu sekarang hanya tersisa satu unit saja. Kulek Terakhir yang dipilih sebagai judul buku ini menjadi kiasan dari sebuah kehidupan Suku Laut kontemporer yang justru hidupnya jauh dari laut. 

Buku ini akan mengurai riwayat penyebab tercerabutnya Suku Sawang dari laut. Penulisannya menggunakan pendekatan jurnalistik. Pernyataan orang-orang terdahulu tentang Suku Sawang sebisa mungkin dikonfirmasi pada generasi yang masih ada saat ini. Pengumpulan datanya menggunakan metode observasi, penelitian pendapat dan kepustakaan serta wawancara. Sumber refrensi tertulis juga diperoleh lewat penelusuran sejumlah media di internet. 

Penelitian pendapat merupakan hasil elaborasi penulis selama menjadi wartawan yang membidangi sejarah dan budaya. Hasilnya itu bisa dilihat dalam bentuk tabulasi dan simpulan yang memudahkan pembaca melihat hubungan dari masa ke masa tentang riwayat Suku Sawang Gantong.

Tentu terdapat sejumlah kekurangan dalam penulisan buku ini. Salah satunya adalah sumber-sumber berbahasa Belanda kuno yang masih diterjemahkan secara bebas. Kedalaman dari setiap konteks masalah dalam penulisan buku ini juga masih perlu ditingkatkan pada masa-masa mendatang.

*) Journalist, penanggungjawab online Harian Pagi Pos Belitong

AMAIR Inklusif Masyarakat Adat Program Peduli Suku Sawang

Cerita Inklusi Fasilitator Peduli


Para fasilitator program Peduli Yayasan Samanta  tidak hanya bergulat bersama masyarakat adat yang didampinginya, tetapi juga menuliskannya menjadi cerita yang membawa kita kepada suasana masyarakat adat yang mereka dampingi.

Untuk membaca kisah mereka, silahkan downlod di link berikut ini..
Download Fasilitator Masyarakat Adat Program Peduli Samanta

They Who Never Give Up


They Who Never Give Up
Stories of PNPM Peduli Facilitators
Author: PNPM Peduli Facilitators Team
Copyright © 2014, Kemitraan

xxix +
194 page, 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-1616-05-5

Editor: Luqman Hakim Arifin
Bahasa Indonesia Proof Reader: Agus Khudlori
Translator: Miki Salman
English Proof Reader: Benedicta R. Kirana, Puji Wulandari T Dewi
Cover Design: A. M. Wantoro
Layout Bahasa Indonesia: Erwan Hamdani & Hendrik Ferdiyansyah
Layout English: Puji Wulandari T Dewi

Photo Contributors:
Ade Siti Barokah, Alexander Mering, Arul, Benedicta R. Kirana, Bosio,
Budianto, Dano Kafara, Deni Sailana, Dewi Yunita Widiarti, Fitrya
Ardzyani Nuril, Florensius, Hendra, Herry, Hurin In, Idham Malik,
IKA, Kurniawan (Awang), Laurensius Edi, Leonardus, Muhammad
Bustom, Mitra Turatea, Mulyoto, Niksen, Saparuddin, Satrianto, Sena
Handoko, Swara, Weda, Wisnu, Yaury Tetanel, Yopu Hardy, Yudith
Evametha.

First English Edition, August 2016
All rights reserved.
No part of this publication may be reproduced, distributed, or
transmitted in any form or by any means, including photocopying,
recording, or other electronic or mechanical methods, without the
prior written permission of the publisher.

Jl. Wolter Monginsidi No.3, Kebayoran Baru - Jakarta 12110
Tel: +62-21-72799566 / Fax: +62-21-720 5260
www.kemitraan.or.id
Download English Gallery Program Peduli

Senin, 17 Oktober 2016

Desa Kanekes Gelar Festival Baduy 2016

Download Undangan di sini
Untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur budaya, serta prinsip-prinsip keseimbangan dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Perangkat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten, bersama para pengrajin tenun dan pelaku budaya Baduy bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Disporapar Kabupaten Lebak Banten akan menggelar Festival Baduy pada akhir Oktober 2016 mendatang.

“Ide ini  juga dalam rangka mempromosikan prinsip Gunung teu meunang  dilebur, Lebak teu meunang dirusak (Gunung tidak boleh dihancurkan, Lembah tidak boleh dihancurkan),” ujar  salah satu Fasilitator Program Peduli dari RMI Bogor yang ikut menginisiasi acara tersebut, Selasa (17/19).
Festival ini sendiri merupakan inisiatif dari ide para Perangkat Desa Kanekes, para penenun dan warga Baduy yang didukung oleh Program Peduli untuk inklusi sosial.

Nilai-nilai yang yang selama ini dijaga dan dipertahankan masyarakat Baduy diharapkan dapat menginspirasi dan dijjadikan pembelajaran semua pihak dalam menata, mengatur, dan mengimplementasikan tatakelola/tata kuasa sumberdaya alam agar tetap memberikan manfaat bagi hidup manusia tetapi teetap terjaga dan lestari.  

Festival Baduy 2016 ini akan menampilkan pameran produk unggulan berupa tenun khas Baduy dan kerajinan kreatif lainnya, pameran kuliner Baduy, pentas seni dan budaya, workshop tata kelola desa. “Lebih dari 500 penenun Baduy luar akan tampil dalam acara tersebut untuk memecahkan rekor menenun,” tambah Aji.

Kepala Desa Kanekes, Jaro Sa’ ija mengatakan warga Kanekes atau yang dikenal dengan sebutan Baduy telah menjaga alam dan hutan di wilayah itu sejak jaman dahulu kala, dengan prinsip-prinsip  berkelanjutan, dengan memanfaatkan SDA seperlunya tanpa berlebihan.  

 Secara umum keberadaan masyarakat Adat Baduy telah diakui dalam bentuk Perda Lebak No. 13 Tahun 1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Adat Masyarakat Baduy di Kabupaten Daerah Tingkat II Lebak dan Perda No. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Baduy. 

Dengan aturan adat yang dipegang teguh, mereka mengelola Leuweung Kolot  atau  Hutan Adat (2.492,06 ha), lahan pertanian berupa huma (2.585,29 ha) dan pemukiman (24,50 ha) tetap terjaga dan terkelola dengan baik hingga sekarang di lahan seluas 5.136,58 ha ( Disporapar Lebak , 20 16 ).  
Warga Baduy yang kini berjumlah 3.300 KK atau 11.667 jiwa percaya bahwa tanah atau lahan adalah ambu atau ibu yang memiliki arti penting dan wajib dihormati, layaknya anak yang menghormati ibu nya ( RMI, 2016 ).  

Karena itu seluruh siklus hidup masyarakat Baduy tidak dapat dilepaskan dari keberadaan hutan, alam dan budaya perladangan yang mereka anut.

Festival ini akan melibatkan banyak pihak. Selain warga Baduy sendiri, pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga para pihak lain yang menghormati budaya masyarakat Baduy.
Baduy Festival RMI

Senin, 03 Oktober 2016

Pemkab Bulukumba, SCF dan Kemitraan Tandatangani MoU

Naufal (SCF), A. M. Sukri A. Sappewali (Bupati Bulukumba) dan Dewi Rizki (Kemitraan) usai menandatangani MoU
Kemitraan untuk tatakelola pemerintahan-Partnership dan Pemerinah Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Community Foundation (SCF) menandatangani nota kesepatan dalam rangka pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bejawan, 28 September 2016.

"Penandatanganan MoU tersebut, merupakan rangkain  dari proses pelaksanaan program peduli yang sudah kita laksanakan di Bulukumba selama dua tahun terakhir ini," kata perwakilan SCF, Naufal Ahmad yang ikut menandatangani nota kesepakatan tersebut.

A. M. Sukri A. Sappewali, dalam sambutannya mengatakan bahwa penandatanganan nota kesepakatan tersebut merupakan upaya Pemkab Bulukumba bekerja sama dengan SCF yang didukung oleh Kemitraan dalam membantu menyusun roadmap rencana pembanguanan terakit dengan pengelolaan DAS Bejawan.

Karena itu dia mengundang semua SKPD di  lingkungan Pemkab Bulukumba, untuk secara bersama-sama mensinergikan  dengan program di SKPD masing-masing. Karena kata dia, pembangunan harus terintegrasi secara baik.

Semenara itu Program Director Partnership For Governance Reform, Dewi Rizki yang ikut menandatangani MoU tersebut menambahkan bahwa, sebagai sebuah lembaga yang terus menerus berusaha  mendorong Pembaruan Tata Pemerintahan hingga ke tingkat daerah. 

Penandatanganan MoU ini menurut dia merupakan upaya Kemitraan dalam memberikan dukungan bagi usaha-usaha ke arah tersebut, selain memang merupakan bagian dari rangkaian program kerja kemitraan bersama SCF untuk program peduli.
Gallery MoU Program Peduli SCF

Orang Kalah yang Tidak Mau Mengalah: Orang Rimba

Cover Novel PDT Karya Paul Tao Widodo
Adi Prasetijo PhD[1]

Bagi orang pemerintah, Orang Rimba atau Suku Anak Dalam adalah hanya sebuah angka deret penerima project semata. Angka penerima manfaat dari jumlah rumah yang dibangun, atau jumlah penerima bantuan beras dan lauk pauk. Angka deret yang mungkin dianggap tanpa jiwa. Bagi masyarakat luas di Sumatra, Orang Rimba mungkin dianggap angka deret yang tanpa makna.

Ya. Tanpa makna. Bagi orang kebanyakan Orang Rimba dianggap sebagai orang buangan. Cerita asal-usul mereka sebagai orang buangan, tentara yang berasal dari Pagaruyung kemudian tidak berhasil menjalankan misinya dan malu untuk kembali maka berdiamlah dihutan dataran rendah Sumatra tengah – antara Sumatra Barat dan Jambi. Atau cerita bahwa sebenarnya adalah sisi terpisah dari buah gelumpang bersama Orang Melayu dan melakukan perjanjian untuk selalu menjaga sikap dan persumpahan. Dan mitos ini selalu menjadi pembenar bagi masyarakat Melayu untuk selalu mengalahkan mereka. Cerita yang selalu menjelaskan posisi mereka bahwa mereka selalu dibawah dan kalah.

Novel ini tentang Orang Rimba yang selalu dalam posisi termarjinalkan. Sangat jarang, bahkan menurut saya ini adalah novel pertama dari sudut pandang Orang Rimba sendiri. Meskipun penulis belum pernah melakukan perjalanan dan penelitian terhadap Orang Rimba, namun sudut pandang orang pertama dari Orang Rimba perlu diapresiasi. Sudut pandang bahwa sebenarnya mereka bukanlah orang yang benar-benar kalah.

Selama ini Orang Rimba selalu diposisikan sebagai orang-orang yang kalah. Sangat jarang diceritakan bahwa Orang Rimba juga mampu melakukan sesuatu untuk hidupnya. Ketokohan “Rima”, seorang janda dengan 8 orang anak, dan menjadi kepala rombong memang bukanlah hal yang mudah ditemui dalam kehidupan Orang Rimba. Sangat jarang atau bahkan belum ada cerita bahwa perempuan menjadi kepada rombong Orang Rimba. Meskipun begitu novel ini ingin menunjukan bahwa bukanlah omong kosong bahwa suatu saat perempuan bisa menjadi pemimpin bagi Orang Rimba.

Perempuan bagi Orang Rimba mempunyai makna yang kuat. Ada tiga persumpahan bagi Orang Rimba yang menunjukan itu, “Rajo nan diperturut”, “Rajo nan disembah”, dan “Rajo nan dipermalu’on”. Raja nan diperturut adalah anak, raja nan disembah adalah pemerintah atau penguasa, dan raja yang dipermalukan adalah perempuan. Artinya bahwa perempuan adalah seseorang yang memang harus dijaga dari perbuatan yang memalukan. Mereka dijaga agar tidak sembarangan bertemu dengan orang luar. Bagi Orang Rimba, orang luar adalah membawa keburukan. Hal itu dinampakan dalam beberapa taboo atau pantongon bagi Orang Rimba dan perempuan untuk membatasi bertemu dengan orang luar. Namun demikian halnya, banyak orang luar yang kemudian masuk ke dalam hutan untuk merambah. Pembagian dunia kosmologi yang awalnya menjadi kesepakatan bersama ini kemudian mempengaruhi bagaimana Orang Rimba melihat dunianya kembali. Dunia yang dulunya bagi mereka adalah rumah besar, sekarang bukan hanya milik mereka tetapi sudah menjadi milik semua orang. Dan bagi saya, perempuan mempunyai peran yang penting dibalik layar bagi keluarga dan kelompoknya. Saya teringat, saya dapat diterima dengan baik dalam suatu kelompok Orang Rimba yang lain karena induk[2] Tarib menghantar saya dan membawa saya ke dalam kelompok tersebut.

Bagi Rima, sang tokoh, mereka bukanlah cerita kekalahan. Bagi Rima, menjalani hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menentukan bagaimana mereka terus hidup sebagai Orang Rimba. Cerita Rima, bagi saya adalah cerita Orang Rimba yang tidak mau mengalah kepada kekalahan itu sendiri.  Dari catatan KKI Warsi sendiri, sampai tahun 2015, terdapat kurang lebih 21 kasus konflik antara Orang Rimba dan pihak luar, dan menyebabkan 15 Orang Rimba meninggal dunia (Prasetijo,2014). Suatu cerita yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Orang Rimba juga berjuang. Mereka juga tidak mau mengalah dengan mudah. Cerita Rima dan anak-anaknya adalah cerita bahwa mereka tidak mau mengalah kepada keadaan yang tidak mendukung lagi keberadaan mereka.

Dan Rima sendiri berjalan dan berjuang bersama anak-anaknya sampai akhir. Sampai hilangnya daun terakhir di hutan, dan disitulah akhir yang namanya Orang Rimba.













[1] Peneliti Orang Rimba, dosen Antropologi Sosial Undip
[2] sebutan Ibu bagi Orang Rimba
Novel Suku Anak Dalam (SAD)

Rabu, 14 September 2016

Mengukir Kulek Terakhir

Cover draf buku Kulek Terakhir. Dokumen MPM
Sesepuh Suku Sawang Gatong Udin (76) mengatakan, kata Ameng dalam Bahasa Laut memiliki arti ’Orang’ dan Sawang artinya Laut. Jadi Orang Laut bisa pula disebut Ameng Sawang. Sedangkan kata ’Sewang’ dalam Bahasa Laut memiliki arti ’uang 10 sen’. Dalam sejumlah literatur berbahasa Belanda juga tak pernah muncul kata ’Sewang’ sebagai nama dari komunitas Orang Laut di Pulau Belitung. Setidaknya hal itu berlaku pada literatur terbitan abad ke-19 maupun awal abad ke-20 masehi.

Tapi siapakah sesungguhnya suku sawang, yang jumlahnya menyusut dan terancam punah? Dari hasil penelusuran Air Mata Air (Amair) Belitung, hanya sekitar 200 jiwa saja, dan hanya sekitar 25 persen saja yang masih mampu berbahasa Sawang.

Untuk itu akan segera terbit buku kajian tentang suku ini dengan judul Kulek (perahu) Terakhir, yang ditulis seorang wartawan  di Belitung yang terlibat  dalam Program Peduli di Belitong Timur, yaitu Wahyu Kurniawan.


AMAIR Buku Program Peduli Suku Sawang

 

  • Ikuti Peduli Adat

    Dengan cara mendaftarkan email anda di sini!

    Copyright © Peduli Adat™ is a registered trademark.
    Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.