Gerakan Inklusi Sosial dari Meurumba di Sumba Timur

Tokoh Masyarakat Sumba Timur. Photo Alfons Nedabang Pos Kupang
WAINGAPU -Desa Meurumba dan Desa Mauramba, keduanya di Kecamatan Kahaungu Eti, KabupatenSumba Timur, menjadi sasaran pelaksanaan Program Peduli yang dicanangkan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Untuk implementasi Program Peduli, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bekerjasama dengan Kemitraan/Partnership. Program ini dengan spirit mendorong gerakan inklusi sosial di Indonesia.
"Kementerian melalui Program Peduli, memfasilitasi organisasi masyarakat sipil di daerah dan komunitas yang terinklusi untuk bekerjasama dalam mencapai keadilan sebagai warga Indonesia," kata tenaga ahli Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Yauri Tetanel saat ditemui diWaingapu seusai mengunjungi Desa Meurumba, belum lama ini.
Menurutnya, Program Peduli fokus pada masyarakat adat dan lokal terpencil yang kehilangan sumber daya alam, dimana komunitas masih sulit memperoleh hak atau layanan dasar, penerimaan sosial serta kebijakan pemerintah.
Mengenai Desa Meurumba, Yauri Tetanel menjelaskan bahwa masyarakat Meurumba selama ini mendiami kawasan hutan kemasyarakatan. Oleh karena itu, hidup mereka tergantung dari sumber daya hutan.
Meski demikian, masyarakat Meurumba tidak leluasa mengelola dan memanfaatkan hutan untuk kelangsungan hidup.
"Mereka tidak bisa bebas mengelola hutan. Masyarakat butuh kayu untuk rumah tapi karena aturan melarang mengambil kayu dalam kawasan hutan sehingga mereka tidak bisa memanfaatkan kayu hasil hutan," katanya.
Selain itu, lanjutnya, wilayah Meurumba sulit diakses karena infrastruktur jalan sangat tidak memadai.
"Masyarakat Merumba juga menanam tanaman pertanian dan perkebunan. Namun hasil hutan non kayu ini tidak bisa dijual karena infrastruktur seperti jalan ke desa rusak. Transportasi tidak ada. Kalau bisa terjual uangnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya," tambahnya.
Yauri Tetanel menghimbau pemerintah Kabupaten Sumba Timurdan pemerintah Provinsi NTT terlibat membangun infrastruktur jalan menuju Desa Meurumba.
"Kedua, ada porsi yang harus dimainkan pemerintah pusat terkait bagaimana status hutan serta upaya membangun sarana infrastruktur dasar. Ketiga, program jangka pendeknya, bagaimana mengoptimalkan dana desa. Hal ini sudah saya bicarakan dengan kepala Desa Meurumba," kata Yauri Tetanel.
Meurumba merupakan salah satu desa terpencil dan tertinggal diSumba Timur. Secara admnistratif terbagi menjadi empat dusun, dengan jarak antar dusun sekitar 2 Km.
Pemukiman warga berada di punggung dan lereng bukit. Rumah warga tidak terkonsentrasi melainkan tersebar dengan jarak antar rumah sangat berjauhan.
Umumnya rumah pangung, terbuat dari kayu, dengan atapnya berbentuk menara. Meurumba dihuni sekitar 1.000 jiwa, bermata pencaharian sebagai petani.
Adapun komoditi pertanian yang menjadi primadona di Meurumba adalah kemiri dan bawang. Untuk mengakses Meurumba tidak mudah. Dari Waingapu, perjalanan sejauh 80 Km, memakan waktu sekitar 3 jam. Perjalanan lumayan lama karena melintasi medan berat lantaran beberapa lokasi jalannya rusak berat. (aca)
Laporan Wartawan Pos Kupang, Alfons Nedabang 
Sumber: Pos Kupang