Merajut asa di pedalaman Sumba

 INKLUSI—Beginilah situasi kampung warga Meorumba, 25% wargannya masih menganut agama Marapu. Photo Alexander Mering
Oleh 
Senja semburat di antara kerumunan warga Desa Meurumba awal pekan lalu. Tidak kurang dari 50 warga desa itu berkumpul di rumah kepala desa; menari, bernyanyi dengan sukacita mengurapi raut muka mereka untuk menyambut kedatangan tamu dari Jakarta.

"Kami senang sekali ada yang mau berkunjung kemari. Mari masuk," ajak istri kepala desa mempersilakan para tamu memasuki rumahnya.

"Belum pernah ada tim dari Jakarta yang melihat keadaan kami di sini. Mungkin karena keadaan desa kami yang jauh dari pusat pemerintahan, dan kondisi geografis di sini yang membuat desa kami ini sulit dikunjungi," sambung Bala Nggiku, sang Kepala Desa.

Sepiring buah sirih dan pinang disajikan oleh tuan rumah. Sirih dan pinang menjadi suguhan wajib bagi tamu yang bertandang ke rumah masyarakat Sumba, apalagi di Desa Meurumba.

Desa Meurumba terletak di Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Perlu waktu sedikitnya empat jam dengan jarak 70 kilometer dari Waingapu, Ibu Kota Kabupaten Sumba Timur, untuk menuju Meurumba dengan melalui jalanan terjal dan berbatu.

Dengan luas wilayah 3.890 hektare, Meurumba terbagi atas tiga dusun, yakni Dusun Jangga Meha, Dusun Tana Tuku, dan Dusun Wangga Muduk, dengan sedikitnya 1.200 warga tinggal di desa adat tersebut.

Kehidupan di Meurumba sangatlah sederhana. Papan tempat tinggal para warga semuanya terbuat dari kayu, rata-rata tanpa perabotan di dalamnya. Pun belum ada listrik masuk ke desa itu sehingga penerangan yang dimiliki oleh warga hanya sebatas lampu dengan simpanan tenaga sinar surya.

Sehari-hari, warga bercocok tanam di kebun dan hutan yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. Panen yang dihasilkan beragam, ada jagung, kemiri, wortel, pinang, dan kacang tanah. Hasil bumi itulah yang menjadi tumpuan hidup mereka sehari-hari.

Setiap kali sesudah panen, mereka mengemas komoditas tersebut ke dalam karung untuk kemudian dijual ke pasar yang berada di Kecamatan Kahaungu Eti. Namun, keterbatasan sarana transportasi membuat mereka kesulitan memperdagangkan hasil bumi tersebut.

Jarak tempuh ditambah kondisi jalanan berbatu mengakibatkan tidak ada kendaraan roda empat lalu-lalang menuju desa mereka. Pemerintah daerah setempat memang menyediakan satu unit bus Damri untuk angkutan dari Waingapu ke Meurumba, yang dijadwalkan beroperasi satu kali perjalanan pulang-pergi dalam satu hari.

Namun, pada kenyataannya, bus berkapasitas 20-an penumpang itu hanya beroperasi sesuai kehendak sang sopir. Sering kali, bus Damri beroperasi hanya tiga kali dalam sepekan. Tidak jarang warga harus mengirimkan pesan singkat atau menelepon sang sopir jika mereka ingin ke Waingapu untuk menjual jagung atau wortel.

Sulitnya angkutan yang membawa mereka ke kota, warga satu dusun pernah sampai membuang berkarung-karung wortel karena sopir pada saat itu beralasan bus sedang mengalami kerusakan sehingga tidak bisa mengangkut mereka ke kota. 

Padahal, mereka sudah berjalan kaki sejauh 10 kilometer sembari memikul berkarung-karung wortel sampai ke Kecamatan Kahaungu Eti.

"Kalau kami menelepon sopir Damri, kami tanya apakah dia mau datang untuk angkut kami, dia bilang iya. Tapi ternyata tidak datang. Ya daripada kami pikul kembali itu wortel ke desa, kami buang saja. Dijual murah (kepada warga kecamatan) pun tidak laku," kata Umbu Nengi Rutung.

Serba TerbatasHasil bumi yang melimpah di Desa Meurumba sesungguhnya dapat memiliki nilai jual lebih tinggi jika itu dapat diolah dan dikemas lebih menarik. Kehadiran pegiat dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Kemitraan dan Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), melalui Program Peduli, banyak membantu memberikan masukan kepada kepala desa dan tokoh masyarakat setempat.

Para warga diberi pengetahuan untuk mengolah jagung menjadi tepung, membuat kacang menjadi produk makanan jadi, dan mengubah tanaman herbal menjadi bubuk minuman.

Bahkan, para mama dan perempuan di Desa Meurumba juga terampil membuat tikar dari anyaman daun pandan atau daun lontar serta menenun kain khas Sumba. Namun mereka terkendala dengan adanya penerangan yang terbatas di rumah mereka. 

Rata-rata, satu rumah di Desa Meurumba memiliki satu buah lampu yang dinyalakan dengan menggunakan tenaga surya.

Kondisi jalan dari desa menuju kecamatan juga tidak memungkinkan banyak kendaraan mampu lewat untuk membantu pemasaran produk-produk lokal mereka. 

Oleh karena itu, masyarakat Desa Meurumba berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dapat memperhatikan pembangunan infrastruktur di wilayah mereka.

Pembangunan desa merupakan salah satu perwujudan program kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dituangkan dalam Nawacita.

Harapan masyarakat di Desa Meurumba tidaklah muluk-muluk. Mereka hanya ingin diperhatikan oleh pemerintah supaya masih bisa bercocok tanam, menganyam tikar dan menenun kain supaya budaya mereka tidak pudar.
COPYRIGHT © ANTARA 2016