Novelis Kalimantan Barat Luncurkan Novel tentang SAD

Order Novel di sini
By Alexander Mering

Desember 2014 lalu saya, bertemu Mak Marni, seorang ketua rombong (kelompok) Suku Anak Dalam (SAD) atau yang kerap disebut orang rimba di hutan kecil, di Kabupaten Damasraya, Provinsi Sumatera Barat.

Ingatan saya tentang Mak Marni yang terjepit dan berusaha bertahan hidup bersama beberapa orang anak dan cucunya di antara perkebunan kelapa sawit, begitu menggangu saya.   Sampai akhirnya lahirlah sebuah puisi berjudul Kunang-kunang Hutan.

Saya publish puisi itu di blog pribadi saya, http://wisnupamungkas.blogspot.com, dan juga saya broadcast ke facebook, sambil menambahkan lagi beberapa catatan tentang betapa tidak bahagianya saya di malam natal setelah mengetahui Mak Marni sekeluarga pula kelaparan karena tak mendapat pasokan bahan makanan.

Tanpa di duga, Paul Tao Widodo, penulis novel sejarah Republik Lanfang dari Kalimantan Barat mengirim SMS, mengungkapkan keprihatiannannya. Tak hanya Paul, simpati dari berbagai teman pun berdatangan. Baik yang mengirim ke wall facebok saya, WA maupun telepon langsung. Bahkan beberapa teman sastrawan dan di Malaysia mengomentari puisi saya dan ingin ikut menyumbang, untuk meringankan beban Mak Marni.

“Bang, saya akan membuat novel tentang  orang rimba itu. Hanya itu yang bisa saya lakukan, dan sebagian uang penjualan novel itu bisa kita sumbangkan pada mereka,” kata  Paul, sehari menjelang Natal.   Kami membicarakan niatnya itu sambil menyerumput kopi di beranda rumahku di Pontianak.

Saya terpesona. Karena dia bukan saja tak pernah bertemu Mak Marni, atau orang rimba yang lain, bahkan kakinya belum pernah menginjak tanah Sumatera.

Pada awalnya saya sempat ragu untuk membantunya. Terutama karena kesibukan rutin saya, selain itu pasti tidak mudah juga bagi Paul menulis sesuatu yang sangat baru, apalagi tak sungguh-sungguh mengenal atmosfir dimana kisah tersebut diceritakan.  Belum lagi soal bahasa, membangun dialog dalam basa lokal, dan para pelaku dan tokoh ceritanya yang pastilah sebagian orang Sumatera Barat.  Tapi bukankah Karl Friedrich May yang lahir di Jerman juga tidak pernah ke perkampungan orang Indian di bagian baraf Boffalo atau ke Newyork, ketika menulis kisah pertualangan Winnetou?

Tapi ini sebuah niat, tulus. Dia ingin membantu, dan bukan untuk membuat tesis sejarah. Singkat kata, saya menyetujui ideanya, dan berjanji akan segera membangun contact dengan para fasilitator Program Peduli  SSS Pundi di Sumatera yang bekerja mendampingi Mak Marni dan SAD yang lain untuk mendapatkan data. Mulai dari sebaran, konflik yang dialami, hingga tetek benegek sederahana, seperti peta kabupaten Damasraya yang bisa dipakai membangun narasi tentang pergulatan Mak Marni  dan para SAD lainnya di Sumatera.

Saya membantunya menyuplai data sebanyak-banyaknya, membantu mengoreksi tulisannya, mengedit Bab demi Bab, mengutak-atik plot cerita, memintanya mengecek dan recheck lagi soal pemakaian istilah, kata-kata dan pribahasa yang digunakan para tokoh cerita.  

Buku ini menjadi menarik, karena Paul tidak menggunakan satu sudut pandang saja, yaitu orang SAD, tetapi juga dari sudut para aktivis NGO, suara koorperasi yang ditunding paling bertanggung jawab terhadap nasib SAD, dan bahkan membandingkannya dengan nasib suku Dayak di Kalimantan Barat—yang nasibnya tak jauh berbeda—dimana Paul tumbuh besar menjadi penulis.

Karena itulah Paul memilih judul untuk Novel ini: Perempuan di Ujung Tembawang. Yaitu sebuah system agroforestri dalam masyarakat adat yang mulai banyak diperbincangkan para peneliti luar dan dalam negeri.

Dummy buku telah selesai di cetak oleh PT. TOP Indonesia, dan rencananya kan diluncurkan pada malam amal untuk SAD di Kabupaten Damasraya, kerjasama SSS Pundi Sumatera dan Kabupaten Damasraya.

Bagi anda yang ingin memesan Novel Perempuan di Ujung Tembawang (PDT) silahkan order di link ini.

***