Orang Kalah yang Tidak Mau Mengalah: Orang Rimba

Cover Novel PDT Karya Paul Tao Widodo
Adi Prasetijo PhD[1]

Bagi orang pemerintah, Orang Rimba atau Suku Anak Dalam adalah hanya sebuah angka deret penerima project semata. Angka penerima manfaat dari jumlah rumah yang dibangun, atau jumlah penerima bantuan beras dan lauk pauk. Angka deret yang mungkin dianggap tanpa jiwa. Bagi masyarakat luas di Sumatra, Orang Rimba mungkin dianggap angka deret yang tanpa makna.

Ya. Tanpa makna. Bagi orang kebanyakan Orang Rimba dianggap sebagai orang buangan. Cerita asal-usul mereka sebagai orang buangan, tentara yang berasal dari Pagaruyung kemudian tidak berhasil menjalankan misinya dan malu untuk kembali maka berdiamlah dihutan dataran rendah Sumatra tengah – antara Sumatra Barat dan Jambi. Atau cerita bahwa sebenarnya adalah sisi terpisah dari buah gelumpang bersama Orang Melayu dan melakukan perjanjian untuk selalu menjaga sikap dan persumpahan. Dan mitos ini selalu menjadi pembenar bagi masyarakat Melayu untuk selalu mengalahkan mereka. Cerita yang selalu menjelaskan posisi mereka bahwa mereka selalu dibawah dan kalah.

Novel ini tentang Orang Rimba yang selalu dalam posisi termarjinalkan. Sangat jarang, bahkan menurut saya ini adalah novel pertama dari sudut pandang Orang Rimba sendiri. Meskipun penulis belum pernah melakukan perjalanan dan penelitian terhadap Orang Rimba, namun sudut pandang orang pertama dari Orang Rimba perlu diapresiasi. Sudut pandang bahwa sebenarnya mereka bukanlah orang yang benar-benar kalah.

Selama ini Orang Rimba selalu diposisikan sebagai orang-orang yang kalah. Sangat jarang diceritakan bahwa Orang Rimba juga mampu melakukan sesuatu untuk hidupnya. Ketokohan “Rima”, seorang janda dengan 8 orang anak, dan menjadi kepala rombong memang bukanlah hal yang mudah ditemui dalam kehidupan Orang Rimba. Sangat jarang atau bahkan belum ada cerita bahwa perempuan menjadi kepada rombong Orang Rimba. Meskipun begitu novel ini ingin menunjukan bahwa bukanlah omong kosong bahwa suatu saat perempuan bisa menjadi pemimpin bagi Orang Rimba.

Perempuan bagi Orang Rimba mempunyai makna yang kuat. Ada tiga persumpahan bagi Orang Rimba yang menunjukan itu, “Rajo nan diperturut”, “Rajo nan disembah”, dan “Rajo nan dipermalu’on”. Raja nan diperturut adalah anak, raja nan disembah adalah pemerintah atau penguasa, dan raja yang dipermalukan adalah perempuan. Artinya bahwa perempuan adalah seseorang yang memang harus dijaga dari perbuatan yang memalukan. Mereka dijaga agar tidak sembarangan bertemu dengan orang luar. Bagi Orang Rimba, orang luar adalah membawa keburukan. Hal itu dinampakan dalam beberapa taboo atau pantongon bagi Orang Rimba dan perempuan untuk membatasi bertemu dengan orang luar. Namun demikian halnya, banyak orang luar yang kemudian masuk ke dalam hutan untuk merambah. Pembagian dunia kosmologi yang awalnya menjadi kesepakatan bersama ini kemudian mempengaruhi bagaimana Orang Rimba melihat dunianya kembali. Dunia yang dulunya bagi mereka adalah rumah besar, sekarang bukan hanya milik mereka tetapi sudah menjadi milik semua orang. Dan bagi saya, perempuan mempunyai peran yang penting dibalik layar bagi keluarga dan kelompoknya. Saya teringat, saya dapat diterima dengan baik dalam suatu kelompok Orang Rimba yang lain karena induk[2] Tarib menghantar saya dan membawa saya ke dalam kelompok tersebut.

Bagi Rima, sang tokoh, mereka bukanlah cerita kekalahan. Bagi Rima, menjalani hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menentukan bagaimana mereka terus hidup sebagai Orang Rimba. Cerita Rima, bagi saya adalah cerita Orang Rimba yang tidak mau mengalah kepada kekalahan itu sendiri.  Dari catatan KKI Warsi sendiri, sampai tahun 2015, terdapat kurang lebih 21 kasus konflik antara Orang Rimba dan pihak luar, dan menyebabkan 15 Orang Rimba meninggal dunia (Prasetijo,2014). Suatu cerita yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Orang Rimba juga berjuang. Mereka juga tidak mau mengalah dengan mudah. Cerita Rima dan anak-anaknya adalah cerita bahwa mereka tidak mau mengalah kepada keadaan yang tidak mendukung lagi keberadaan mereka.

Dan Rima sendiri berjalan dan berjuang bersama anak-anaknya sampai akhir. Sampai hilangnya daun terakhir di hutan, dan disitulah akhir yang namanya Orang Rimba.













[1] Peneliti Orang Rimba, dosen Antropologi Sosial Undip
[2] sebutan Ibu bagi Orang Rimba