Kahayya Tak Sama Lagi dengan Cerita Lama

Marsan bercerita tentang legenda dan potensi desanya ketika menerima kunjungan 20 blogger dari Makasar dan Jakarta di Kahayya, akhir Desember 2017. Doc SCF
Saya Marsan, umur 35 tahun, merupakan Ketua Kelompok Tani Hutan—Hutan Kemasyarakatan (KTH-HKm) Tabbuakakng I, di Desa Kahayya, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Tengah. 

Bertahun-tahun yang lalu kami hidup terisolir dan kerap distigma sebagai orang gunung yang bodoh dan miskin,  oleh penduduk desa lain di Bulukumba. Bahkan dari aspek pembangunan kami merasa ditingkalkan, bahkan dianaktirikan. Mungkin ini penyebabnya antara lain adalah kondisi geografis desa kami yang jauh dari kota dan sulit di Jangkau, selain melalui jalan setapak di dalam hutan, balik gunung, dan semak-semak belukar.

Karenanya tak heran meski sudah berpuluh-puluh tahun Indonesia merdeka, bantuan pemerintah yang mampir ke desa kami dapat dihitung dengan jari. Selain karena masalah geografis tadi, secara sosial kami juga memiliki hambatan sejarah, yaitu adanya stratifikasi sosial yang menyebabkan kami kurang mendapat tempat yang setara dalam pergaulan dengan warga desa-desa tetangga. 

Kondisi yang demikian menyebabkan banyak generasi muda kami yang tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah.  Sebagian besar malah tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Meski dulu nenek moyang kami mempunyai pengetahuan bagaimana menanam kopi, tapi karena kendala-kendala tersebut banyak diantara generasi kini yang putus asa dan memilih keluar dari kampong untuk bekerja sebagai buruh atau apasaja,  bahkan ada yang menjadi TKI ke luar negeri.

Tahun 2015 ke bawah, kopi dan hasil bumi disini tak bisa dibawa ke kota untuk dijual dan menghasilkan uang.  Petani yang sekarang menanam kopi sekadarnya saja, menjual buah kopi dengan harga murah tanpa berfikir lagi meningkatkan kualitasnya. Selain karena harga yang murah tadi, juga karena belum ada jalan yang bisa ditempuh kendaraan untuk mengangkutnya ke kota.  Ohya, tidak hanya harganya yang murah, tetapi kualitas dan produksinya juga sangat rendah.

Namun semenjak adanya Program Peduli di Desa Kahayya yang dimulai sejak beberapa tahun terakhir ini oleh SCF, cukup banyak perubahan yang saya dan warga Kahayya rasakan. Teruama setelah dilakukan serangkaian pelatihan dan pengorganisasian masyarakat Petani. Itu semua membuat kami tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis bagaimana menanam dan memanen kopi yang baik dan benar, tetapi juga merangsang kami berfikir kritis, bagaimana mengembangkan potensi desa yang tersedia walau pun berada dalam kawasan hutan lindung. Dalam  KTH HKm Tabbuakang I kami berbagi pengetahuan dan belajar bersama.

Sejak 3 bulan terakhir ini, misalnya sejumlah bantuan pemerintah dan pembangunan mulai gencar dilakukan ke desa kami.  Antara lain jalan yang dulu hanya jalan setapak tanah dan batu, kini mulai pengerasan dan di aspal. Yang terdekat dalam desa kami, kurang lebih 400 meter malah sudah mulus, lengkap dengan jembatean beton yang kokoh. Ini adalah jembatan beton pertama dan paling bagus di desa kami. Tak hanya desa kami, menurut informasi yang saya dapat dari perangkat desa dan pendamping dari lembaga Sulawesi community foundation (SCF), setelah Pemerintah Kabupaten Bulukumba bekerjasama dengan SCF dan Kemitraan, desa lain pun mendapat manfaatnya. Buktinya puluhan kilometer jalan antar desa yang dimulai dari desa Kahayya menuju kota Kabupaten Bulukumba juga sudah diaspal. Pemerintah Kabupaten Bulukumba, bulan yang lalu juga sudah membuat masterplan desa wisata untuk Kahayya. Fasilitas lainnya yang diberikan adalah pembangunan fasilitas air bersih dan kolam ikan serta bibit tanaman untuk membantu petani. 

Perubahan lain yang sangat saya rasakan adalah terbukanya akses dengan dunia luar. Selama program peduli berjalan, kunjungan tamu dari luar dan wisatawan bahkan juga wartawan meningkat drastic. Rata-rata mereka terpesona melihat keindahan alam desa Kahayya dan potensi wisata desa  kami yang mempesona. Dulu desa kami nyaris dianggap tidak ada, tapi sekarang kami tak pernah sepi dari kunjungan tamu, berita tentang Kahayya pun muncul di berbagai media masa. Sungguh, kami tidak merasa dikucilkan lagi seperti dulu dan saya pribadi khususnya, kini merasa mempunyai banyak teman di luar sana yang peduli.  

Dari sekian banyak pelatihan yang kami dapat dari program ini, pelatihan pengelolaan lahan kopi, Pasca Panen sampai dengan pengemasan Produk Kopi dirasa sangat membantu kami.  Harga kopi biji yang dulu dijual dengan harga Rp 11.000,-  kini kami bisa menjualnya hingga Rp.25.000. Di dusun saya sini, sekitar  30 KK yang melakukannya secara berKelompok. Selain menanam kopi, kelompok kami juga menanam bawang dan berbagai jenis sayuran lainnya dengan hasil yang lumayan. Beberapa bulan lalu kelompok tani kami baru saja memanen sekitar 6 ton bawang, dan 3 ton sayuran lobak dan kubis.

Selain Kopi, Buncis yang juga merupakan produk andalan desa Kahayya mulai dikembangkan kembali, oleh perempuan-perempuan petani disini untuk dijual ke pasar atau dioleh menjadi Kripik Buncis dalam kemasan.

Karena jalan sudah cukup lancar, walau belum semuanya diaspal namun kendaraan roda dua dan roda empat sudah bisa langsung masuk ke desa, sehingga semua hasil panen dan hasil bumi desa Kahayya dengan mudah diangkut ke pasar untuk dijual. Demikian juga sebaliknya, kami dengan mudah membeli dan membawa berbagai kebutuhan rumah tangga dan keperluan kami lainnya ke desa dengan mudah dan relative murah dibandingkan dulu. *