Diskusi Produk Ikan Asap Suku Anak Dalam

 


Program Peduli Kemitraan bekerja sama dengan SSS Pundi Sumatera untuk terus mendampingi Komunitas Suku Anak Dalam (SAD). Dalam pendampingannya, pada Juli lalu diadakan Diskusi Produk Ikan Asap khas SAD. Ikan yang dipakai adalah ikan patin yang telah diternakan di lokasi pemukiman sejak satu tahun terakhir. Pundi Sumatera mendorong produk olahan berupa ikan asap dengan tujuan untuk meningkatkan harga jual ikan tersebut. Jika dijual mentah, hanya dihargai sekitar Rp14.000,- perkilonya. Sedangkan jika sudah diolah menjadi ikan asap, harga jual dapat mencapai Rp120.000,- hingga Rp140.000,- perkilonya.

            Cara pengasapannya pun terbilang mudah dan komunitas optimis bisa melakukan pengasapan ikan. Awalnya, 5 orang perwakilan dari SAD diajak untuk kunjungan ke home industry ikan asap di Kabupaten Bungo, Jambi. Sejak Juni lalu, komunitas ini telah melakukan tiga kali uji coba pengasapan ikan dan hasilnya cukup memuaskan. Pada diskusi kali ini, 5 orang SAD membawa sampel produk untuk diperlihatkan kepada beberapa pihak, seperti home industry, Dinas Peternakan dan Perikanan, Bappeda, Desperindakop, BPOM, dan Dinas Pariwisata. Di sini para pihak memberikan input atas produk yang dibawa serta memberikan komitmennya untuk ikut dalam upaya peningkatan kualitas produk dan pemasaran produk sesuai standar pasar.

“Kita harus membangun image produk ini agar nanti bisa diterima oleh pasar/ masyarakat. Saya punya tim yang akan membantu untuk memfilmkan proses produksinya, sehingga masyarakat tidak lagi beranggapan bahwa produk makanan dari SAD tidak layak karena kurang higenis misalnya. Setelah itu produk akan kita beri label halal dan BPOM akan membantu untuk itu,” kata Deddy Irawan selaku Kepala Bappeda Bungo.

Sesuai dengan saran dari para pihak, komunitas akan menggunakan ikan patin yang lebih kecil dan menggunakan kayu perapian yang lebih berkualitas sehingga memperoleh kualitas bara yang bagus dan beraroma wangi. Selain itu, komunitas juga akan menyiapkan rumah produksi ikan asap yang lebih baik dan menerapkan proses pengolahan sesuai standar pasar. (shabs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih bagi yang telah meninggalkan momentar positif bagi kami