Pelatihan Pengolahan Sorgum

 


Isu rawan  pangan masih menjadi persoalan bangsa Indonesia yang belum dan hampir tidak  terselesaikan sampai saat ini. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya rawan pangan diantaranya, curah hujan yang tidak menentu, serangan hama pada tanaman pertanian, atau kondisi lahan pertanian yang tidak mendukung.

Salah satu daerah yang rentan terkena dampak masalah rawan pangan adalah provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya di pulau Sumba. Kondisi ini diperburuk karena kondisi lahan pertanian di daerah ini termasuk katagori lahan kritis atau pertanian lahan kering. Hal ini semakin diperparah karena minimnya curah hujan dimana musim penghujan hanya berlangsung  5-6 bulan setiap tahun.

“Hal tesebut menyebabkan NTT sering dilanda krisis pangan. Permasalahan lain yang muncul akibat krisis pangan adalah krisis ekonomi atau rendahnya pendapatan. Ini disebabkan  tingginya pengeluaran untuk pemenuhan kebutuhan pangan terutama untuk membeli beras, kata Stev selaku Fasilitator Program Peduli di Sumba.

Untuk itu, Program Peduli - Kemitraan mengusulkan untuk diadakannya kegiatan penguatan pangan pada komunitas dampingan. Salah satu komoditi yang dikembangkan adalah sorgum. Pertimbangan memilih sorgum karena sorgum cocok ditanam di lahan kering seperti di NTT, ia juga tahan terhadap serangan hama dibandingkan tanaman lainnya.

Pelatihan ini dilaksanakan di Desa Mauramba dan Meorumba pada Juli lalu yang diikuti oleh 14 orang warga setempat. Pelatihan ini dilaksanakan dengan sharing pembelajaran dan praktek. Dalam sharing pembelajaran tersebut peserta maupun narasumber menceritakan pengalaman masing-masing terkait budidaya sorgum maupun pengalaman mengkonsumsinya.

“Sorgum tidak kalah enak dengan beras, hanya saja zaman sekarang orang lebih suka yang gampang, karena proses memasak beras lebih mudah dan lebih cepat,” kata Yohanis Makaborang dari Desa Meorumba.

Melalui pelatihan ini komunitas memiliki pengetahuan terkait pemanfaatan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap beras. Selain budidaya sorgum, masyarakat juga dihimbau untuk melakukan diversifikasi pangan lokal lainnya, seperti ubi-ubian dan kacang-kacangan. Harapannya selain terpenuhinya kecukupan pangan juga diharapkan menghasilkan nilai tambah dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai pakan ternak. (shabs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih bagi yang telah meninggalkan momentar positif bagi kami