Pentingnya Lembaga Adat untuk Suku Boti


Kabupaten Timor Tengah Selatan yang terletak di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur menyimpan banyak ragam suku budaya. Di kabupaten yang berpenduduk sekitar 400 ribu jiwa ini dahulu terdapat beberapa kerajaan kecil. Salah satu yang masih tersisa hingga kini adalah Kerajaan Boti yang mendiami kawasan pegunungan di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebut Halaika. Hal ini menyebabkan masyarakat adat Suku Boti terpinggirkan dan mendapat stigma sebagai “Orang Kafir” karena penganut aliran kepercayaan Halaika.

            Untuk itu, Program Peduli – Kemitraan yang dimandatkan sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan advokasi di tingkat nasional dengan target memasukkan isu inklusi sosial dan perhatian terhadap berbagai kelompok marjinal mendampingi Suku Boti agar keberadaannya bisa diakui oleh negara. Boti merupakan salah satu sasaran program karena merupakan kelompok/komunitas adat yang terpinggirkan baik secara sistem maupun sosial.

            Menurut Stevanus, salah satu Fasilitator Program Peduli di Boti mengatakan bahwa berdasarkan analisis situasi terakhir pada periode ini program akan difokuskan untuk mengembangkan Pembentukan Lembaga Adat dengan melakukan beberapa strategi antara lain, pengarusutamaan gender dan perlindungan hak anak. Pembentukan Lembaga Adat ini adalah salah satu inovasi program dengan melihat kebutuhan-kebutuhan warga Suku Boti terkait dengan legalitas dokumen terutama akta nikah dan akta lahir.

            “Kami sudah ada sejak lama dan sudah dikenal oleh banyak orang tapi secara sah lembaga adat kami belum ada. Kami juga baru tahu bahwa harus ada proses yang dilakukan. Oleh sebab itu, penting adanya lembaga adat yang resmi dengan harapan kami mendapat pengakuan dan dukungan dari pemerintah daerah sehingga dapat mengikis stigma terhadap masyarakat suku Boti serta menjamin pemenuhan hak-hak dasarnya,” kata Namah Benu selaku Raja Boti.

            Menurut Stevanus, prosesnya sendiri sudah berjalan dengan melibatkan komunitas Suku Boti dalam diskusi-diskusi terfokus untuk mengisi formulir persyaratan pembentukan lembaga adat yang sekarang sudah diserahkan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan. (shabs)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih bagi yang telah meninggalkan momentar positif bagi kami