Serial Diskusi Gerakan Inklusi Sosial

 


Program Peduli – Kemitraan bekerja sama dengan Sulawesi Community Foundation (SCF) mendampingi masyarakat di Desa Kahayya, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selama pendampingan berlangsung terjadi perubahan yang sangat signifikan yang dirasakan oleh masyarakat Desa Kahayya, dari segi ekonomi maupun pembangunan. Dilihat dari segi ekonomi, pendapatan masyarakat meningkat melalui pemberdayaan komoditas kopi Kahayya. Lalu sudah banyak dilakukan pembangunan infrastruktur jalan untuk memudahkan masyarakat dalam memasarkan komoditas kopi mereka. Selain ekonomi dan pembangunan, pelayanan hak identitas untuk kelompok marjinal sudah terlayani dengan baik dari pihak pemerintah Desa Kahayya.

            “Perubahan ini bisa terjadi karena adanya komitmen bersama dengan berbagai stakeholder dalam membangun inklusi sosial di Desa Kahayya. Di 2020 ini, kami akan lebih banyak mereplikasi capaian yang ada di Kahayya ke Kampung Na’an, Kelurahan Borong Rappoa yang terisolir. Maka diperlukan kader pemuda desa Kahayya untuk membantu kegiatan kami ini,” kata Sultan salah satu Fasilitator Program Peduli.

            Berdasarkan hal tersebut, pada Juli lalu SCF membuat Serial Diskusi Gerakan Inklusi Sosial dengan tema “Membangun Jiwa Kepedulian dalam Membantu Masyarakat Marjinal Lokal Terpencil”. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk mendorong kesadaran kader muda di desa untuk dapat mereplikasi perubahan sosial yang terjadi di Kahayya selama adanya Program Peduli.

            Saat diskusi berlangsung, para pemuda antar wilayah diajak untuk bertukar pengetahuan dan melakukan kegiatan sosial agar kesenjangan sosial di Kab. Bulukumba dapat berkurang. Bertukarnya informasi ini, diharapkan dapat mendorong pemuda Kampung Na’an untuk meningkatkan pengetahuannya, mendorong potensi yang ada di Kampung Naa’an, mendorong adanya peningkatan layananan dasar, dan sebagainya.

            “Saya sangat senang berkat adanya diskusi ini, kami bisa bertemu dan bertukar informasi dengan pemuda lintas desa lalu berdiskusi bertukar pengetahuan untuk mereplika kegiatan di Kahayya yang termarjinalkan,” kata Haeriah Ulfa salah satu peserta diskusi.

            Dari hasil diskusi ini, terbentuklah forum diskusi inklusi sosial di Kab. Bulukumba dan ke depannya aka nada rencana membuat festival kampung kopi di Na’an. (shabs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih bagi yang telah meninggalkan momentar positif bagi kami